Munchen is Calling [Part 2]



Sepulangnya dari Olympiapark, perjalanan kembali menuju apartemen untuk beristirahat sejenak. Konon nanti malam sekitar pukul 19.00 berencana untuk pergi ke sebuah Opera House, kami bertiga yang hanya memiliki dua tiket pun harus mengatur strategi, akhirnya kami berdua yang masuk ke Opera House itu. Tiket Opera House yang hanya dapat dibeli jauh hari sebelum pentas pun merupakan kendala.
Opera House

Bagiku, pergi menonton sebuah Opera yang biasa ditonton oleh orang-orang dewasa dan berkelas pun merupakan sebuah event yang sangat membutuhkan perhatian khusus bagiku. Manusia super simple yang tidak pernah memperhatikan penampilannya, dipaksa secara halus untuk dressed up. Hampir semua penonton disana mengenakan Formal Attire,daripada mengenakan Jas dengan berbagai cara diplomasi akhirnya pilihan paling tepat tanpa ribet adalah mengenakan Batik. Meskipun begitu, perjanjian untuk lebih behave di Opera House aku pegang erat-erat. 


Kemegahan ala Eropa ini menjelaskan betapa tinggi kasta mereka, saat itu. 

“Taufik, I just want you to know that this isn’t biggest Opera House in this city, we have bought two more Opera performances this week, you are lucky!”

Ternyata Opera House sebesar, semegah bahkan se high-class itu bukan yang terbesar. Cukup menyedihkan, selama ini tidak mengasah kemampuan Bahasa Jerman dengan tekun, yang berakhir pada tidak pahamnya apa yang mereka ceritakan. But the gestures picturize it well. Selain itu larangan untuk membawa kamera cukup membuat sulit dalam mengabadikan momen.
Bavarian State Opera

Ada sebuah pelajaran yang bisa dipetik dari menonton sebuah Opera. Selesai pertunjukan, semua penonton berdiri sambil tepuk tangan paling meriah, dan itu dilakukan selama kurang lebih 10 hingga 15 menit. Jujur, itu melelahkan, silahkan dicoba.

Apresiasi yang luar biasa, membuat merinding dan terharu, sungguh. Sungguh rasanya indahnya sebuah apresiasi. Keikhlasan tepuk tangan serta senyum yang terpancar benar-benar membuatku jatuh hati, jatuh hati kepada sebuah kekuatan apresiasi. 

Setelah selesainya pertunjukan, ada sebuah tradisi yaitu minum di Bar yang ada di setiap Opera House. 

“Which one, Cola or Juice?”
Fine dining at Opera

Itulah yang selalu Opa tanyakan, statusku sebagai seorang Muslim, serta pengertian beliau mengenai kepercayaanku, dia tidak pernah menawarkanku Pork atau Wine. Dan hanya dua minuman itu yang selalu aku pesan, kemanapun aku pergi.

Kebiasaan bangun pagi pada pukul 5 merupakan sebuah kebingungan pada hari ketiga. Itu adalah waktu dimana semua orang belum beraktifitas, namun matahari sudah seperempat hari berada di tengah bumi. Berteman dengan buku adalah aktifitas paling tepat pada pagi hari, hampir setiap hari. 

Berencana ke Museum Munich Residence, yang merupakan sebuah tempat dulunya tempat tinggal bagi petinggi Bavaria’s Dynasty. Lokasi ini berada tepat di sebelah Bavarian State Opera House, residence ini memiliki arsitektur dengan detail yang penuh dengan komposisi warna emas, di beberapa sisi memiliki kombinasi red-gold dan blue-gold. Arsitektur di dinding hingga langit-langit, apakah terbayangkan pada ratusan tahun yang lalu, negeri Bavaria sudah memiliki istana semegah itu?
Rezidenz Museum

Ditemani dengan sebuah translator device yang bentuknya seperti sebuah telepon genggam dengan versi yang sangat besar, akhirnya dapat mengetahui sejarah tiap-tiap arsitektur yang ada. Penjelasan pun sangat baik tersampaikan, bahkan device tersebut memiliki belasan bahasa, sehingga memudahkan bagi pelancong yang berasal dari berbagai negara. 


Hari keempat berada di Museum BMW, salah satu mobil mewah yang digunakan oleh ribuan konglomerat karena kekuatan dari mobilnya. Keberadaan Museum BMW adalah sebuah status yang kuat bagi posisi Munchen akan maju serta berkelasnya kota ini. Cuaca yang tidak mendukung akhirnya membatalkan rencana untuk menaiki sebuah tower untuk melihat kota ini dari atas. Pertunjukan didalam Museum berisi tentang mobil-mobil yang di produksi BMW dari dulu serta mobil terbaru. Dan ternyata BMW memiliki produk berupa sepeda motor, dengan klasifikasi Motor Gede.
BMW Museum

Seperti biasa, cuaca yang kurang baik itu kami manfaatkan meminum kopi di BMW Café, berlokasi di lantai dua gedung ini.
BMW Museum Cafe

Berlanjut menuju sebuah festival bernama Artgeteches Munchen atau di Indonesia biasa disebut pasar malam, yang di Munchen hanya ada pada saat Summer. Dikarenakan banyak yang belum buka, akhirnya kami pulang. Lokasi Artgeteches Munchen berada di balik bukit, cukup tertutup namun sangat seru untuk cycling. 
Summer Festival

Hari kelima cukup melelahkan karena pergi ke suatu tempat berlibur para Raja Munchen, sebuah tempat asri serta banyak turis. 

Munchen Castle

Hari ke enam dan ke tujuh. Akhirnya setelah berhari-hari melakukan diplomasi, berakhir pada bolehnya pergi sendiri. 

“I don’t give you any permission to go somewhere by yourself!”, ucapnya hari pertama. Mematahkan semangat untuk explore Munchen sendiri, sehingga Itinerary yang telah tersusun rapi harus di replace dengan Itinerary yang telah beliau tetapkan. Akhirnya tiket yang diberikan pun tidak diperguanakan sepenuhnya, jalan kaki jauh lebih seru. Dengan alasan ingin pergi melihat kembali Universiteit akhirnya diizinkan, dengan batasan waktu tertentu. Akhirnya menemukan beberapa tempat yang belum terjamah sebelumnya, cukup banyak malah. Dibekali dengan sebuah Handphone akhirnya melanglang buana sendirian, hanya berbekal sebuah peta. 

Hari terakhir adalah bersamaan dengan Idul Fitri. Dengan berbagai macam cara, aku yang hanya muslim seorang meminta beliau mencarikan tempat untuk sholat Ied. Setelah googling, terdapat beberapa masjid yang ada di Munchen, karena hasrat yang sangat tinggi untuk pergi ke Allianz Arena, kandang Bayern Munchen. Lalu ada sebuah Islamic Centrum yang lokasinya bersebrangan dengan Allianz Arena, akhirnya berbagai macam diplomasi telah dilakukan hingga dibuatkan sebuah petunjuk yang sangat detail, pastinya agar tidak tersesat. Di salah satu kota terbesar di Germany, adalah hal sulit bagi pendatang baru sepertiku memahami jalan. Pernah membaca bahwa Pak B.J. Habibie mewakafkan tanahnya untuk dijadikan Islamic Centrum di Munchen, dan kemungkinan besar itu adalah lokasi dimana aku sholat Ied.

“How can I become an independent person in the country I haven’t lived in if I am restricted to go somewhere by myself? How can I learn something new next week, and go Amsterdam by myself”, itulah powerful argument yang akhirnya memberikan tiket untuk explore sendiri di kota ini.
Beberapa konsiderasi mengapa aku tidak diperbolehkan pergi sendiri adalah pertama komunikasi. Telepon genggamku tidak memiliki kartu disana, sehingga tidak dapat dipergunakan, meskipun untuk Telkomsel mencakup area Munchen bahkan Amsterdam. Kedua adalah keterbatasan warga Jerman yang mampu berbicara bahasa inggris dengan baik, itu adalah kendala terbesar bagiku, kebiasaan untuk bertanya orang pun menjadi sebuah masalah. 

Pengalaman yang membuat merinding adalah ketika berada didalam sebuah bus menuju Islamic Centrum yang banyak berisi dengan 20an orang Arab yang juga memiliki tujuan yang sama. 

“Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar, Lailaahailallahuallahuakbar. Allahuakbar walilahilham.”, seruan kami didalam bus.

Sungguh tak pernah kulakukan hal ini di negaraku sendiri, ternyata di negeri yang mayoritas tidak menganut agama Islam pun mereka sangat menghargai sebuah Idul Fitri. Tidak hanya itu, sepulangnya aku bertanya kepada seorang supir “Why the machine doesn’t work well?”, kebingungan terjadi karena tidak berjalan. Ternyata sang sopir tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa inggris, akhirnya aku meminta kepada seorang wanita Arab untuk menanyakan kenapa mesin tidak berjalan. Ternyata, khusus hari Idul Fitri maka bus menuju Islamic Centrum digratiskan oleh pemerintah. Kaum minoritaspun sangat dihargai di Jerman, bahkan sebuah agama yang terkenal dengan melahirkan kaum teroris itu tidak pernah mendapatkan diskriminasi. Indonesia harus belajar menghargai kaum minoritas dari negara ini, harus!

Berjarak sekitar 500 meter, terdapat sebuah stadion megah yang menjadi salah satu icon di Munchen. Bahkan, ini adalah satu dari dream list yang harus aku kunjungi yaitu "Allianz Arena". Allianz Arena adalah kandang Bayern Munchen yang iconic dengan LED lamp yang bisa berubah warna ketika datang gelap.

See my outfits during Idul Fitri

Must-visit place

Selama tepat tujuh hari di Munchen, merasakan tiga buah Opera House megah dan berkelas. Sedikit kekecewaan karena ada sebuah tempat impian yaitu Neuschwanstein. Kastil ini berada diluar kota Munchen, dengan Arsitektur yang sangat mirip dengan negeri dongeng, konon Arsiteknya adalah salah satu Raja Ludwig. Beliau mewujudkan kastil yang ada di dongeng menjadi sebuah kastil megah dengan lokasi di atas pegunungan, persis seperti di dongeng-dongeng.
Neuschwanstein

Selain itu, belum kesampaian untuk berkunjung ke Technische Universitat Munchen yang tersohor di benua Eropa itu.
Technische Universitat Munchen

Pada hari terakhir, disaat semua sudah terasa nyaman dan menyenangkan, harus pergi ke sebuah kota sendiri. Keberadaan Munchen menjadi sebuah awal petualangan yang benar-benar penuh kejutan.

Terima kasih, Tuhan. Atas semua kejutan yang telah Engkau persiapkan. Aku siap menerima kejutan-kejutan selanjutnya, untuk mengunjungi berbagai negara yang ada di berbagai belahan dunia. Aku siap, Tuhan.

Munchen is calling.

Pagi itu kamar berantakan. Kertas hasil dokumen-dokumen penting pun berserakan. Sambil membuka semua file di Folder untuk ditandai –finished.doc setelah selesai dicetak. Di sebelahnya terdapat sebuah koper yang sudah diisi beberapa potong baju dengan menggunakan teknik melipat ala backpacker, tidak lain tidak bukan memang untuk menghemat ruang. Lima bungkus Indomie, 2 Popmie serta BonCabe tak luput dari cengkraman sang koper. Demi survive di negeri orang, tak apa toh? Menyedihkan memang menjadi seorang yang konservatif sama makanan. Yang sangat tidak mau untuk mencoba makanan yang baru. Bagaimana tidak, untuk tinggal di negeri orang, mana mungkin ada warteg tersedia di pengkolan depan kampus?

“Worst case itu harus ditanggulangi”. Tiba-tiba terlintas di pikiran tentang salah satu prinsip itu. Sebagai Solo Traveller yang akan menjejakan kaki pertama kalinya di benua yang berisi dengan negara-negara maju, menuntut persiapan ekstra. Beberapa dokumen maupun tiket langsung segera di cetak double. Ya biar semua lebih well-planned dan well-managed apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Satu-satunya the most affordable transportation ke airport dari Depok adalah Bus Hiba Utama. Cukup mengeluarkan 1 lembar uang rupiah berwarna biru(dan wangi yang menggoda) sudah bisa menikmati dinginnya AC dengan kursi empuk sambil mengantarkan kita ke Airport.

Sesampainya di Terminal 2D, baru masuk pintu pertama seperti melihat seseorang yang tidak asing yang tadi pagi-pagi telepon cuma buat nanya “Mau dianterin ga?”, dan seperti biasa, tolakan berpihak kepadanya. Ternyata, nekat juga ini anak. Dengan muka kucel yang entah kenapa, dia sambil menyodorkan beberapa makanan untuk dibawa. Pasti dibawa. Setelah itu, perpisahan.

================================Loading================èAmsterdam======èMunchen.

“Muncheeeeeenn!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriakan dalam hati. Setelah penjemputan akhirnya pergi ke sebuah café di daerah Technische Universität München, sebuah Universitas Teknik nomor wahid di Germany. Tenang, damai dan sejahtera, pikirku kembali. Summer adalah waktu yang tepat untuk mencicipi hangatnya matahari menyentuh kulit secara langsung. Terlebih saat itu pukul 02 PM yang matahari sedang berada tepat di kepala kita. Di terik panas, meja bundar kecil dengan dua kursi pun menjadi pilihan yang tepat, untuk tiga orang. Sambil menikmati cappuchino serta sepotong roti berisi strawberry jam, lalu lalang mahasiswa bersepeda terlihat seperti tidak memiliki beban. Sepeda yang merupakan moda transportasi utama di kota ini memang sangatlah dekat dengan kehidupan penduduknya. Kampus ternama tersebut memberikan aura teknik yang sangat kental akan kekakuan, disiplin dan tepat. “You need to study here, you will get the ambiance.”, ucapnya. Bersekolah di jurusan Computer Science memanglah dekat dengan teknik, atau bahkan untuk di negara-negara eropa Computer Science biasa disebut Informatics Engineering. Ya bagian dari teknik, bagian dari kampus ini juga. Ia berkata bahwa saya cocok untuk melanjutkan study disini, sambil menyeruput cappuchino hangat itu. "Sorry for my idealism, i will get out from my way anyway", gerutuku dalam hati.
Dari dalam Schiphol Airport saat menunggu pesawat ke Munchen, 

Bus menuju ke pesawat Lufthansa

Pemandangan dari luar Airport Munich

Allianz Arena terlihat di jalan tol


Di perjalanan, melewati sebuah tol yang tidak crowded, tidak seperti di Jakarta. Pemandangan dari dalam mobil pun disuguhkan berbagai macam pemandangan, “Kota ini memang hijau”, gumamku dalam hati. Terlintas ada Allianz Arena yang namanya cukup harum di berbagai belahan dunia itu, terpotret dengan tidak baik dalam ponselku. “Harus kesana!”, ucapku lirih supaya tak terdengar oleh mereka. Obrolan bahasa Deutschland yang memang tak pernah bisa dimengerti, memberikan kesempatan untuk mencari aktifitas lain. Tak terasa mobil sudah berada di depan sebuah apartemen di sebuah persimpangan yang dekat dengan jalur tram itu, Franz Jozeph Strasse. Hanya kurang lebih 500 meter dari sini, terdapat sebuah alun-alun kota dan pusat kota yang berisi Shopping Centrum yang konon baju-baju disana seharga mobil di Indonesia. Selain itu, Ludwig Maximilian University Munich yang ternyata adalah juga kampus nomor wahid di Germany berada di sebelah persimpangan dekat dengan GisellaStrasse, ujung depan dari koridor apartemen ini.
Hari pertama, langsung menuju EnglischeGarten yang berada di belakang Universiteit(kata orang Munich). Mungkin taman ini berukuran sama dengan Hutan kampus Universitas Indonesia di depok, lengkap dengan danau nya yang cukup luas. Sambil menikmati buah cherry yang dibeli di jalan menuju ke pusat taman, terlihat ramai sekali mahasiswa yang sedang berjemur. “Pantaslah mereka kalau di pantai berpakaian seperti itu”, ucapku. Di Indonesia tidaklah lazim seseorang berjemur di bawah terik panasnya matahari hanya menggunakan bikini atau celana renang saja, sekalipun di pantai.

“It was a reversed moment, I think”. Bahkan mereka yang hanya berjemur di danau saja sudah berpakaian seperti ini.

Banyak restoran yang buka yang menyediakan banyak makanan dan minuman. Restorannya pun sangat beragam pastinya. Ada yang di tengah taman, ada yang di pinggir danau, bahkan ada di pinggir sungai yang konon airnya langsung dari gunung Alpen. “You don’t need to know how cold this water is”, ucapnya sambil menunjuk sungai kecil yang hanya beberapa gelintir orang saja yang berani berendam ditempat itu. Berbagai macam atraksi yang di pertontonkan pun sangat menarik, mulai dari musik yang menggema di belantara hutan mungil itu serta Surfing.

“Are you crazy to do surfing in a river?”, tanyaku.

“Just let see it!”, ucapnya sambil berjalan mengarah sebuah sungai yang memiliki arus yang deras.

“Dammit!” sambil lari kecil ke pinggiran sungai ini.

“How come?” kataku sambil menunjuk. Takjub memang, tapi sungai dengan arus yang besar ini memang biasa digunakan untuk surfing atau hanya latihan saja. Tetapi memang digunakan untuk Surfing activities. Lengkap kostum mereka yang beberapa kali terlihat sangat familiar ketika berjalan-jalan di pantai Kuta, Bali. Dan akhirnya tenggelam dalam riuhnya summer di negara sub tropis ini.

Sepulangnya jalan-jalan, “I want to go there”, sambil menunjuk sebuah gerbang raksasa khas eropa yang megah dengan ornamen khas negara ini. Yang ternyata adalah sebuah Gate untuk masuk Universiteit. Dan letaknya tepat di dekat pintu gerbang Englischegarten ini.

Hari kedua. Matahari bersinar terik, hari itu berencana untuk menepati janji dengan seorang dari Amerika di sebuah tempat yang sangat unik, Olympiapark. Setelah raket serta bola lengkap dengan topi serta kacamata hitam, ayuhan sepeda beranjak menuju tempat yang telah dijanjikan sebelumnya. Sebuah lapangan tenis yang terdiri sekitar belasan lapangan tersebut ternyata sudah penuh terpesan, untuk lapangan yang terbaik. Dengan terpaksa maka harus memesan lapangan yang kualitasnya katanya biasa saja, namun mungkin lapangan yang mereka bilang biasa saja tersebut sangatlah berkualitas baik yang pernah saya temui di Boyolali, tempat kelahiran dan tempat bertumbuh.

Sport is a cable for connecting people itu memang benar. Kawan yang dulunya bersama bisa kembali akrab setelah melakukan sport, tenis adalah salah satunya.


“Two cola please”, ucapnya diiringi dengan pelayan wanita yang berada di depannya itu. Di belakang stadion Olympia, serta tepat di sebelah Lapangan tenis yang kami pesan, untuk kedua kalinya hari ini.


Munchen, 18 Juli 2015
11:27

Meet & Seat, ketemu lalu duduk bareng di udara?

Pada penerbangan panjang pastinya kita ingin duduk di samping seseorang yang akan membuat perjalanan kita nyaman, kan? Jadi bagaimana jika kita bisa menggunakan media sosial yang kita miliki untuk memilih teman duduk, berdasarkan pada friend yang ada di media sosial kita atau kepentingan lainnya. Pastinya itu akan membuat pengalaman terbang menjadi lebih nyaman, setuju?

Jangan khawatir, airline dari Belanda sudah menemukan dan mengimplementasikannya! Apa itu? Simak inovasinya dibawah ini.

Program seat selection disebut "Meet & Seat", sebuah layanan telah diluncurkan pertama kali di dunia pada tahun 2012 oleh KLM Royal Dutch Airlines. KLM Royal Dutch Airline merupakan salah satu Airline yang berasal dari Belanda yang memberikan inovasi-inovasi baru dalam dunia penerbangan, tak heran apabila banyak penumpang yang membelalakan mata karena keheranan atas inovasi-inovasi yang dilakukan oleh KLM. Dengan dilakukannya integrasi dengan Facebook dan Linkedin, tapi tidak Twitter. Alasannya karena memang hal itu dikhususkan untuk sistem yang “acceptance” dari dua arah yang artinya harus menjadi friend dalam kedua media sosial tersebut, berbeda dengan twitter yang “acceptance”nya bisa hanya dengan satu arah yaitu follow.


Gambar 1 Facebook atau LinkedIn profil dapat digunakan untuk memilih seatmates.

 “Meet & Seat” tersedia hanya untuk penumpang yang bersedia untuk menghubungkan profil media sosial mereka dalam pemesanan. Setelah memilih beberapa informasi pribadi yang mereka ingin bagikan, penumpang disajikan dengan peta kursi yang menunjukkan dimana orang lain yang juga telah berbagi profil mereka untuk memilih tempat duduk. Alasan penumpang mungkin memilih pasangan duduk hanya karena suatu kepentingan, tapi jabatan yang sama bisa menempatkan penumpang untuk mendapatkan kursi di dekat pebisnis yang potensial(dalam hal ini sama potensialnya). Penumpang kemudian dapat memesan kursi di sebelah orang yang tampaknya menarik(asalkan masih tersedia) dan orang itu akan menerima pesan dengan rincian profil kita.


Gambar 2 Pemilihan seat.

Dalam penerbangan dari Amsterdam ke Sao Paulo, misalnya, penumpang bisa memilih Juru Bicara Direktur Inggris, yang sangat menyukai aliran musik reggae dan jazz, atau seorang ahli kimia dari Italia yang fasih berbahasa Belanda, Inggris, Spanyol dan Portugis, maupun penggemar aliran musik rock dari Norwegia yang sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi keluarganya di Argentina.
Meskipun tidak mungkin untuk "menolak", orang telah memilih untuk duduk dengan kita, kita masih dapat memilih tempat duduk lain selama dua hari sebelum penerbangan. Atau alternatif lain apabila merasa canggung maka kita dapat menghapus data mereka dan memilih kursi baru menggunakan standar “anonim”.

Sangat menarik bukan?

Adapun proses untuk kita dapat memilih tempat duduk maskapai berdasarkan pada media sosial kita yang  diperkenalkan oleh KLM Royal Dutch Airline. Tapi jika kita sedang terbang sendiri, dan apabila kita ingin bertemu dan berbicara dengan orang asing pada penerbangan berikutnya apakah bisa? Jawabannya adalah bisa. Seperti tertera diatas yaitu menggunakan standar “anonim”.
Dalam pelaksanaannya ada beberapa prosedur yang harus dilalui penumpang untuk menggunakan program “Meet & Seat”. Dilansir dari website resmi KLM Dutch Royal Airline, berikut adalah prosedur dalam memilih kursi pesawat dalam program “Meet & Seat”.

Gambar 3 Penumpang untuk memilih seatmates berdasarkan informasi dari profil Facebook atau LinkedIn mereka.


Sebegitu mudahnya kan untuk duduk dengan rekan yang kita kenal dalam satu pesawat dan penerbangan panjang?

"Meet & Seat saat ini telah disambut sebagai program fantastis, layanan baru yang inovatif," ucap Martijn van der Zee, Senior Vice President E-commerce dari KLM Royal Dutch Airline.  "Orang-orang menanggapi dengan rasa ingin tahu dan antusiasme dan positif oleh seluruh Direktur", ucapnya kembali.

Menurut juru bicara KLM Royal Dutch, lebih dari 50.000 penumpang telah memilih untuk menggunakan “Meet & Seat” sejak layanan ini diperkenalkan. Hal ini tidak terlalu besar dalam persentasenya, namun, karena lebih dari 52 juta penumpang terbang dengan maskapai penerbangan dalam dua tahun terakhir. “Meet & Seat” yang paling populer pada rute ke dan dari Brasil, mungkin dikaitkan dengan fakta bahwa sekitar 5 juta pengguna Facebook KLM Royal Dutch Airline, sekitar 1 juta dari mereka adalah dari Brasil dan 62% dari pengguna layanan ini terhubung dengan Facebook.


Ketika layanan pertama kali diluncurkan pada bulan Februari 2012, “Meet & Seat” hanya tersedia pada penerbangan dari Amsterdam ke San Francisco, New York dan Sao Paulo. Sebulan kemudian baru ditawarkan ke lebih 10 tujuan penerbangan, berdasarkan fakta bahwa mayoritas menggunakannya untuk networking. Sejak itu telah diluncurkan pada semua penerbangan maskapai akan dan datang dari Amsterdam Airport ke  Schiphol.

“Meet & Seat” diharapkan mampu mengubah industri penerbangan untuk menjadi lebih baik dengan menghubungkan penumpang dengan sumber daya besar yang belum dimanfaatkan dari pengetahuan dan hiburan di perjalanan untuk penumpang. Sebagai pilot project, KLM Dutch Royal Airline diharapkan menjadi inspirasi berbagai airline yang ada diseluruh belahan dunia untuk mengikuti jejaknya, agar banyak penumpang pesawat yang dapat bertemu dengan orang yang kita kenal. Sehingga banyak orang yang bersuka cita saat melakukan penerbangan, meskipun jarak jauh karena dapat bertemu serta ngobrol bareng dengan rekan. Penerbangan jauh tidak akan terasa jauh apabila kita dalam keadaan suka cita, kan?
Meskipun banyak proyek Belanda yang dahsyat seperti Delta Works Project, Agriculture Farming Technology serta berbagai macam inovasi lainnya, maka “Meet & Seat” adalah inovasi pelengkap dari elemen udara. Tidak kalah bergunanya kan “Meet & Seat” untuk seluruh warga Belanda maupun warga dunia? Inilah salah satu inovasi yang memanfaatkan elemen udara yang menyatukan manusia dalam sebuah tempat yang berukuran hanya kurang lebih 2x2 meter, yaitu kursi pesawat.

“Whenever I was at a meeting, someone would ask me to get coffee.”
Bella Abzug.

Ingin melihat simulasinya secara langsung?



Referensi Gambar:
Gambar 1: http://static01.nyt.com/images/2012/02/24/business/global/24seats-span/24seats-span-articleLarge.jpg
Gambar 2: http://static01.nyt.com/images/2012/02/24/business/SEATS2/SEATS2-popup.jpg
Gambar 3: http://static01.nyt.com/images/2012/02/24/business/SEATS1/SEATS1-popup.jpg

Referensi:
http://travelonthedollar.com/2011/12/16/socialize-with-complete-strangers-at-airports-or-planes/
http://travelonthedollar.com/2011/12/15/choose-your-airline-seat-based-on-your-social-network/
http://www.webinknow.com/2012/02/klm-social-media-meet-and-seat.html
http://www.klm.com/travel/gb_en/prepare_for_travel/on_board/your_seat_on_board/select_your_seat.htm
http://news.klm.com/klm-lanceert-applicatie-meet-e-seat-en

Angkat Dagumu dengan Sempurna, Boy!

Di umur yang fana ini, disekitar berjalan diatas duri bahkan melompati lautan adalah hal biasa. Sampai sekarang leherku masih tergantung pada tali magic ber-asas-kan orang tua. Di leher ini diikat erat dengan tali tambang yang hampir putus karena uzurnya usia tali, setara dengan jumlah umurku. Bahkan tali itu membuatku bisa berdiri tegak,  setegak mendongkakkan kepala diatas mereka, wahai orang-orang yang kurang beruntung. Tali itu seolah tulang punggung, meluruskan yang lemah. Menegakkan. Akhirnya aku sadar, aku tegak bukan karena "aku", tetapi karena tali itu. Aku ternyata serapuh itu. 

Sudah saatnya aku berhijrah ke pulau sumatra berenang dengan tangan dan kakiku, sudah saatnya aku melewati hutan dengan pedangku, sudah saatnya aku memanen padi dengan keringatku. Setelah semua yang kulakukan selama ini, aku hanya bangga pada tali itu, bukan bangga atas "aku". Untuk berdiri, aku hanya melihat orang-orang itu. Dengan tangkasnya otakku meniru hal yang tabu, tapi yakin akan berlabuh. Mereka terlatih, tak sepertiku. Leherku masih terbiasa tergantung, yang badanku tak mampu menahan kepalaku sendiri. Dalam anganku, kakiku berjalan diatas kain merah dibentangkan lurus ke arah kursi berlapis emas. Dikanan kiriku banyak lelaki berpedang berbaris dengan rapinya menyambut. Seorang perempuan menunggu sebelah kursi emas itu, sayangku. Badanku mulai tegak berjalan, karisma terpancar, dagu terangkat sempurna. Tanpa tali di leherku.

I am in Autopilot mode

It's quite mature to tell that i should have to stand by my self. I am responsible of my self. I am the highest authorization of my self.

Those words are likely to show how nowadays and future in my own hand. I don't even conscious if my age turns into maturity session. This is the time for me to see that world is not only here, world is wide,  world is still need to be explored. Since several years ago, i force myself to make a routine activity about writing and drawing what my destiny is. Some strategies have also been created to realize what i have already constructed. Till i fall into comfort area, the thing that i most avoid. Time flies so fast, really fast even i don't know where i should begin right now. Currently my parents don't have an authority to interfere my future plan. I am no longer a child that should be encouraged physically by them.

Currently, all those things are like how autopilot system works. I will clearly tell this matter by aviation approach, although i don't have capability to speak it, but just embrace the red line of parable. Before take off, airplane has already been checked the completeness of safety standard. Pilot must ensure that everything should be OK before they taking over the position to drive the airplane. Pilot should has prepared all the things which later will be conducted. Where the destination is, where the path route is, when the machine should be turned on, which runaway could be used, and etc. Pilot is not only work alone, the togetherness of the crew also important point before airplane is taking off. Deciding to let the flight goes actually Pilot was ready to responsible all passengers and all crews. So many news show that one of the biggest accident section is when the airplane taking off from the land. Level of stressful will raise significantly in this section, it could be dangerous when Pilot does not take a very high concentration to handle take off-section. Pilot has to know the schedule of the runaway usage, weather and the position of destination. Right after taking off-section has already done, Pilot has to direct where the path of destination. After successfully passes those sections, Pilot can see the conditional weather. Conditional weather gives input to Pilot that when autopilot system should be done. By technical mechanism Pilot can be take a rest while autopilot works, autopilot is replacing the Pilot's job by determined the right time is. Autopilot switches almost 80% Pilot's job, it is taken when condition is already stable.

I have constructed very comprehensive and specific plans, but one day my plans are like empty paper that can be called as trash. What i have believed in, was easily destructed by the condition that suddenly come. I am not sure that it will stop, just need a very big fire to raise everything to be up. I hope all those things just only like I am in Autopilot mode, so i could still have time to handle it manually. I hope several days later, everything will be back to normal that previously be planned. I know autopilot is stable and reliable to do, but undergoing big barrier is not only need an ordinary efforts. Almost a month i am not sure to run into my strategic plans, kinda has already enjoyed in the Autopilot mode. I need to escape very soon the autopilot mode to take over the real position as a Pilot. Comfort area is always coming when people really tired of all. Then i will never make my aircraft that still be driven by me attacks mountain. Or i won't to make my passengers could not enjoy my flight.

After that, my task still have not finished before my aircraft landed perfectly in my destination. I have to make sure that I timely, exactly, comfortably, orderly and perfectly.

Self Centric

Nowadays, the condition where my personality is like divided into two versions which have quite far to be united. Inability to control one of those, it is hard to reach, it is hard to catch. People don't know why I am quick enough to show my expressions differently at the same moment. In the second version of I am, self centric-ness dominates in partaking the big portion of personality authorization that finally can destruct everything, may be.

I have never disregarded the "actually happens" in my body right now. One body contained of more than one version is acceptable for people who opens their mind widely as I am. But when consciously wake up with very tight eyes open, the alert danger constantly reminds me to stop the anger now. Self centric brings me hard to follow people suggestions, it is like i have my own light in my own intuition to be followed. Walking in the dark room with very little light signs which can be followed still be my first guidance to throughout the dark room. Analogy over there shows me how big my intuition actively acted to through my life. It is like nobody can control me, there is nobody could able to make my thought will be turned over, to be handed over. The most dangerous moment someday that i had feared off, my circumstance experienced some moments that similar with what i am facing now. They try to encourage me into better action that they had experienced before, they want me to get better. My ideology still upstanding to build castle to make sure there is no one can interfere. Interference is like breaking originality to create new product with additional  ingredients from others recipe in our food. Everyone has their own recipes in building creativity in their food. There will never appropriate when recipes are collected and create new variety of foods, fifty to fifty random chances to get better food. But I don't want accept consequences among un-mature plan to conduct. The highness of honor will decrease by unoriginality of something. All i need is proportional and original, as people mostly want. I have not found the truth of self-centric's stance, it stand in the right side or it stand on the wrong side. In fact that my self-centric has already succeed to bring my spirit in order to build bigger fire in ceasing my biggest ambition.
I need clarifications regarding self centric, self centric is not that people don't care about something and neglecting others, but self centric tells us about how people appreciate and have their own thought to be followed.

I do (not), fucking love Science!!

Pada ruangan yang berukuran 4x3 meter ini, sering kali terlintas di otakku bahwa suatu saat nanti Science akan menguasai dunia. Seolah Science adalah sebuah tangan fiktif yang menggenggam peranan bumi. Bumi? Not only that. Impossible is nothing, then someday will awake irrational-able thing. Jembatan yang menghubungkan antara Merkurius dan Bumi, kenapa tidak? Science adalah suatu hal yang sebenarnya sudah ada dan akan diciptakan. Bahkan kemampuan manusia untuk menemukan sesuatu yang sudah tercipta dan hidup maupun berjalan sejak ratusan tahun pun masih membutuhkan waktu yang sangat lama. Bangunan tertinggi di dunia pun masih belum dapat mengalahkan tingginya Mount Everest.


Ditemukannya suatu chip yang bisa membuat manusia menjadi abadi, mungkin saja. Ketika Science akan menjawab sesuatu yang mungkin diinginkan oleh manusia di dunia ini. Kalau kehidupan manusia hanyalah bergantung pada detak jantungnya, suatu saat akan ditemukan suatu chip yang di tempel di daerah jantung yang fungsinya untuk membuat jantung tetap berdetak. Atau membuat jantung buatan yang bisa dipasang di tubuh manusia, It will be a lil bit more awful. Dan kematian akan menjadi sebuah pilihan, bukan kepastian lagi.

How big the power of Science? Science will be the greatest power in changing the world. It would be unbeatable reason to disregard that the power of Science can be controlled.

Science ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan hebat, the world just only own by they who have over average intellectual brain. Mereka bisa melakukan apapun, seperti yang mereka inginkan. Sometimes aku berfikir, bagaimana kalau orang-orang hebat itu memiliki misi lain dalam semua penemuannya? The highest level in managing people just a chief. Suatu hal yang buruk akan terjadi saat mereka under-controlled by people who have bad pretension to hold the world.

Semua itu sebenernya inline dengan study yang kutempuh saat ini, especially in Information Technology. By the very high enhancement in Information Technology, i ensure that this world will be grow faster than what i expected. Someday, Presiden, Raja, bahkan Perdana Menteri pun sudah tidak mempunyai kuasa untuk melakukan sesuatu. Bahkan segala perintahnya pun sudah tak akan ada lagi. Aku berharap IT expert should have their out standing idealism. Jangan sampai mereka mudah diperdaya oleh sesuatu yang akan membuat dunia memburuk. IT Expert has to realize that World in their hand, in many sectors should be educated about morality and awareness in keeping world alive.
Di sisi lain bahwa science dapat mengubah peradaban yang saat ini sedang berkembang, peradaban dimana manusia bisa mengelola dunia ini dengan seimbang, maksudnya manusia bisa me-manage the balance among human life, animal life, natural life and technology. Peradaban manusia dengan tingkat intelektualitas yang tinggi yang hidup di suatu perumahan berteknologi canggih dengan memiliki tiga puluh persen green area di rumahnya. Yes, it could be happen. Itu semua akan terjadi apabila manusia-manusia jenius di muka bumi ini tidak under-controlled by a chief, atau manusia jenius itu tidak berniat untuk menghancurkan dunia ini.

Science adalah satu hal dua sisi. If you utilize science well, the world will be like a heaven which is created by human. Everyone will easily to get something, long life, sensing the quality of life and will be a greater society that were blessed by God. Not only human, all the parts of life will live well, animal does. In the other hand, Science is the highest influental media to destroy the world. One who control science will easily to intervene in the unordered world.
Semoga manusia-manusia yang tercipta dengan hebatnya, tahu apa yang harus mereka lakukan di saat mereka memegang kendali atas Science. Nobody knows, kalo someday I am the part of them.