Perkuliahan di Vrije Universiteit Amsterdam

Kesan pertama pada kampus ini adalah bagus dan bersih, serta nyaman. Semua gedung memang modern yang berisi fasilitas yang sangat lengkap, apalagi kebetulan course ku berada di Main Building.

Lobby kampus

Tempat depan bookstore kampus

Ruangan kelas

Main building Amsterdam Vrije University

Taman belakang Main building

Taman

Gedung lain

Main building dari belakang

Ruangan kelas

Kelas kami

Koridor di depan kelas

Pemandangan di depan kampus

Depan main hall

Halte Boolelaan

Hari pertama kuliah kami tidak tahu dimana ruangan kami. Aku dan Majid menelusuri satu persatu untuk mencari International Office untuk menanyakan ruangan kami masing-masing. Dan ternyata Majid berada di gedung yang berbeda denganku. Karena waktu itu sudah pukul 9 maka Majid yang ingin mengantarku mencari ruangan pun dengan paksa aku cegah karena perkuliahan sudah mau dimulai. Dan sebelumnya kami sudah menemukan ruangan Majid yang mengambil Course Enterpreneurship. Lalu secara tidak sengaja aku bertemu dua orang perempuan yang sedang kebingungan mencari ruangan juga. Dan ternyata mereka berdua mengambil course yang sama denganku yaitu Discover (the) Dutch: Dutch Language and Culture.

Sambil tergopoh-gopoh kami berjalan mencari gedung lain, yaitu main building. Selain itu kami sambil ngobrol menggerutu karena sudah pukul 9 AM namun belum menemukan kelas kami. Aksen Amerika yang mereka ucapkan pun sangat kentara, dan wajah mereka pastinya. Saat di jalan kami sambil memperkenalkan diri dalam keadaan terengah-engah.

“Haaai, I am courtney”

“Haiii, I am Lydia”

“Haiii all, I am Taufik”

“Where do you come from, Taufik?”, tanya Courtney sambil mencari-cari jalan menuju Main Building.

“Wooooww, from Indonesia”, itu ajasih jawabannya karena kami sibuk mencari ruangan kelas.

Akhirnya setelah kami menemukan kelas kami yang berada di lantai 13, tetapi liftnya tidak bisa dibuka pada lantai 13. Jadinya kami turun di lantai 14 lalu turun satu lantai menggunakan tangga.

Hampir semua mahasiswa sudah datang ternyata, berjumlah 17 orang saat itu. Kami pun disuruh memperkenalkan diri dan menyebutkan semua teman kita satu-persatu. Mungkin itu salah satu trik paling efektif untuk menghafal nama mahasiswa dan nama teman-teman baru. Terbukti kurang dari 30 menit kami sudah hafal nama rekan kelas kita semua. Awesome! Padahal biasanya baru ketemu satu orang lalu kenalan terus langsung lupa siapa namanya.

Kuliah berlangsung

Ternyata masih ada satu mahasiswa lagi yang akan datang pada hari ketiga karena bermasalah dengan visanya. Sehingga jumlah semua 18 orang. Dan sebagai informasi bahwa 10 dari mereka adalah orang Amerika. Selain amerika ada yang dari India, Syria, China dan Indonesia yaitu cuman akulah seorang. Oh ya, untuk summer seperti sekarang ini orang-orang berpakaian yang kurang bahan. Apalagi mereka yang dari negara-negara nya sudah terbiasa seperti itu.

Dosen yang mengajarkan kami bahasa pun bernama Chris, dia sangat senang sekali mengobrol denganku. Dan sering sekali ia mention “Indonesia” atau “Nasi Goreng” atau yang lainnya. Di Belanda, kami sangat dekat dengan Dosen kami, bahkan seperti teman sendiri. Ternyata Chris dulu pernah tinggal sekitar 1 bulan di Indonesia, di daerah Pondok Indah. Chris sering menawarkan kami coffe menggunakan ID cardnya. Jadi disana terdapat Vending Machine gratis bagi pemilik ID Card campus. Ya jadinya aku sering-sering minta ke Chris untuk mendapatkan segelas Hot Chocolate!

Setelah kelas Chris lalu ada kelas Dutch Culture, Win adalah dosennya yang membahas tentang “Golden Time” nya Belanda dulu. Terlihat slide di depan ada foto sebuah buku yang bergambarkan Tiga orang pangeran. Namun mereka tidak menggunakan kostum blonde yang orang bayangkan. Mereka menggunakan Beskap(Pakaian tradisional Jawa untuk lelaki) lengkap dengan kostum ala Pangeran Jawa. Ternyata didalam buku itu membahas Collonialization nya terhadap Indonesia.

Seketika satu kelas menatapku.

Chan cho kwan yang berasal dari Hongkong pun langsung bertanya.
“Is Indonesia one of the part of under Netherland collonialization?”, sambil memperlihatkan muka yang kaget sambil terheran-heran. Muka yang serius itu terlihat sambil mendekatkan wajahnya di dekatku.

“Yes, it is. I know you’ll be surprised at a moment because Indonesia is under Netherland collonialization around 300 years”, ujarku menjelaskan. Biarpun kita dijajah Belanda 300 tahun, tapi aku masih hidup layak kok di Indonesia!

====

“Kriiiiiiiiinnnggggggggggggg”, pukul 6 pagi alarmku berdering. Sambil membereskan kamar tidur, aku sambil berpikir apa saja yang perlu aku masak untuk lunch hari ini.

Perbandingan apabila membeli makan di restoran dengan masak sendiri sangatlah berbeda jauh. Pastinya aku setiap hari masak, biarpun gak bisa masak sih tapi kan demi menekan pengeluaran. Seperti misalnya nasi instant yang seharga 2 koma sekian Euro berisi 4 bungkus. Ayam mentah dengan 2 potong paha atas dan 2 potong paha bawah yang sudah dibumbui seharga 2 Euro. Apabila sekali makan di restoran kemungkinan bisa menghabiskan paling tidak 5-7 Euro. Atau telor yang isinya 10 buah berisi 1 euro. Jadi kalau masak sendiri, hemat kan? Kita harus pintar-pintar mengatur keuangan supaya bisa dialihkan ke pengeluaran yang lain nantinya!

Seperti biasa untuk sarapan aku cukup makan roti+lekker dengan Nutella. Setelah itu untuk lunch aku masak nasi+ayam goreng. Setelah selesai masak, sarapan dan mandi lalu aku bergegas ke Halte Tram. Sudah pukul 8 ternyata. Kartu tram yang aku miliki akan expired pada pukul 9, maka dari itu aku segera naik tram agar sampai ditempat tujuan kurang dari jam 9.

Meskipun janji untuk Museum Visit pukul 9:15 tetapi tidak apa aku datang terlebih dahulu, jadi ongkos kan bisa hemat. Sebagai informasi bahwa di Amsterdam tiket tram dihitung harian, per dua hari, atau per minggu. Karena aku tidak memiliki OV Chipcart, yang katanya jauh lebih murah.

Sesampainya disana aku mencari tempat paling enak untuk merasakan sinar matahari. Akhirnya tepat di depan Museum aku singgah.

“Haiii lousa!”, ucapku kepada wanita diseberang jalan. Sekitar pukul 09:10 kami ngobrol sambil mencari dosen kami yang mengajar sejarah Dutch. Wanita Amerika satu ini memang cukup pendiam, tidak seperti teman-temanku Amerika lainnya yang sangat talkactive apabila bertemu denganku.

Rijk Museum

Buku Negeri Van Oranje

Main hall Rijk Museum

Information Center Rijk Museum

Gate

Interior Architecture

Guidance

Interior Rijk Museum

Hari ini adalah matakuliah Dutch Culture yang mengharuskan kami untuk Museum Visit. Satu kelas diwajibkan untuk datang ke Rijk Museum untuk diberikan penjelasan mengenai history Netherland dari abad 17 hingga abad 20.

Setelah berkumpul semua pun akhirnya si Keith, mahasiswa Columbia University ini langsung berkata
“Let’s make a group!”. Kami memang dikelas dekat satu sama lain, tidak berbeda dengan mahasiswa Indonesia yang suka membagi kelompok sendiri-sendiri saat mereka berada di kampus. Kami yang terdiri dari Keith, Jessica, Chan Cho Kwan, Weymo dan Aku pun langsung mendekat satu sama lain sambil mempersiapkan diri untuk menitipkan tas kami di loker penitipan. Tetapi tidak dengan Weymo, yang masih dalam perjalanan menuju Rijk Museum.

Wim sebagai dosen Dutch Culture pun sangat detail dalam menjelaskan satu persatu peninggalan yang ada disana. Di Rijk Museum terbagi atas 4 lantai yang masing-masing merupakan cerminan dari 4 abad yaitu:
1.       Lantai Dasar: berisikan benda koleksi pada tahun 1100-1600.
2.       Lantai Satu: berisikan benda koleksi pada tahun 1700-1900.
3.       Lantai Dua: berisikan benda koleksi pada tahun 1600-1700.
4.       Lantai Tiga: berisikan benda koleksi pada tahun 1950-2000.

Karena katanya Belanda mengalami masa keemasannya pada tahun abad 17, maka kami hanya berkunjung di lantai satu. Peninggalan-peninggalan yang paling menarik yaitu lukisan-lukisan yang ada disana.
Wim berkata “We all know that we can find so many talented painter in Spain or France, but Dutch picturized everything as close as people’s life”, sambil menunjuk salah satu lukisan yang berisi seseorang didalam rumah dengan seekor anjing yang sedang bermain di halaman rumah. Kelebihan yang dimiliki pelukis Belanda adalah membuat semua yang digambar adalah kehidupan manusia biasa yang sangat dekat dengan perkebunan, serta hewan peliharaannya. Tidak seperti lukisan dari negara lain yang cenderung untuk menggambar kemewahan duniawi saja, misalnya menggambar gedung kerajaan dari kejauhan.
Selain itu banyak sekali kontroversi-kontroversi yang tergambar pada beberapa lukisan yang menjelaskan hukuman mati kepada orang yang mungkin tidak menyukai atau membenci rajanya waktu itu.


Museum ini merupakan salah satu museum besar di Amsterdam, kebersihan serta kerapiannya pun sangat dijaga. Berikut koleksi dan desain interior dari museum ini.

































Setelah capek mengelilingi Museum selama 2 jam akhirnya kami pun mencuri kesempatan foto di depan tulisan I Amsterdam, tetapi sayangnya sedang banyak turis sehingga kami membatalkan rencana kami. Sambil berjalan kami melihat sebuah kursi yang bertuliskan I Amsterdam dan akhirnya kami foto disini.

"Jess, we need to take a picture together in the front of this sofa. I will ask somebody to take picture of us!", ucapku.

"Really?", ucap jessica dengan muka senang berseri-seri.

"Excuse me, would you mind to take picture of us?", pintaku kepada mbak-mbak berwajah Amerika latin yang sedang memfotokan temannya di depan kursi itu.

"Of course!", jawabnya.

Setelah tidak ada aba-aba sama sekali, kami bingung.

"Has she taken our picture, fik?", tanya jessica sambil bertanya kebingungan.

"I am not sure!", jawabku. Ternyata sudah selesai sesi pemotretan yang tidak ada persiapan sama sekali itu. Terlihat Weimo dan Wan Cho Chan yang masih belum siap. Tapi, our mission was accomplished!

Taufik-Weimo-Wan Cho Chan-Keith-Jessica

Lalu kita mencari restoran yang paling dekat, semua orang sedang sibuk memesan makanan dan aku sendiri duduk di kursi.

"Don't you get something to eat?", tanya Keith sambil antri di salah satu restoran hamburger. 

"No, I don't", ucapku.

"I bring my own food, I cooked it this morning", ucapku menambahkan kembali.

Setelah kami selesai makan lalu Jessica berkata "Someday, we must be cooking together in one's kitchen! Before we all are leaving Amsterdam".

Sedih banget mendengar hal tersebut. People come and go. 

"See you!!!!!!!!!", ucap kami serentak mencari jalur tram kami masing-masing.

Amsterdam, 23 Juli 2015.
21:29

Meet up dengan kawan di Negeri Kincir Angin

“Lus….”

“Udah dimanaa?”

Itulah tulisan wasappku kepada temanku. Dia berencana berangkat ke Amsterdam pukul 06:00. Tetapi ternyata di Enschede(sebuah kota di Belanda) ada perbaikan jalur atau gimana gitu. Sehingga dia baru sampai di Amsterdam Central Station pada pukul 12:00. 

Ilus adalah temanku yang saat ini kuliah Undergraduate di Saxion University. Jurusan yang dia ambil pun aku lupa, ya pokoknya dia peminatan di programming. Letak Saxion University memang berada di Enschede, yang sudah hampir di perbatasan Belanda dengan Jerman.

Saat itu aku juga janji dengan Majid untuk ke kota bersama, namun ternyata ia bangun kesiangan. Beberapa kali aku wasapp namun ia tak membalasnya, malahan last seen nya adalah pukul 03:31 dini hari. What is he doing juga kurang tau sampai jam segitu.

Pukul 11:00 hujan turun.

“Bagaimana ini?”, pikirku sambil menengadahkan tangan di depan balkon untuk memastikan hujan tidak terlalu deras. Namun ternyata hujan turun sangat deras. Karena aku sudah janji, mau tidak mau aku menerobos hujan itu dengan penutup kepala jaketku. Sambil melihat weather check yang ada di HPku ternyata suhunya 13 derajat celsius!

Di area apartemen yang masih hujan

Saat didalam tram

Sudut kota Amsterdam dari tram

Sudut kota Amsterdam dari tram

Boyolali, tempat tinggalku saja yang berada dibawah kaki gunung merbabu tidak sedingin ini. Ternyata kota metropolitan ini jauh lebih dingin! Padahal kan saat ini sedang summer. Gak akan kebayang bagaimana dinginnya winter di Amsterdam. Selain itu juga banyak orang bilang bahwa Amsterdam sangat cepat dalam perubahan cuaca. Seperti hari sebelumnya yang sangat panas dan terang benderang, ternyata keesokan harinya bisa menjadi hujan deras dan sangat dingin. Bahkan hal ini sudah menjadi pembicaraanku dengan Majid bahwa Weather in Amsterdam drastically changes. Meskipun ia sudah terbiasa dengan kondisi ini, karena katanya di UK jauh lebih dingin dan lebih ekstrim. Bagi orang Indonesia sepertiku yang biasanya dimanjakan dengan hangatnya sang mentari dari pagi hingga sore pada saat Dry Season seperti ini, sangat butuh adaptasi yang lebih cepat untuk menerima kondisi cuaca disini. Untungnya meskipun summer tetapi aku bawa banyak jaket, karena sebelum berangkat ke Belanda aku sudah memasang weather check yang sudah dipindahkan ke posisi Amsterdam. Dan tren yang terjadi selama hampir sebulan terakhir bahwa di Amsterdam suhunya sekitar 15 hingga 20 derajat celsius. Sebagai tips, mungkin trik tersebut bisa digunakan sebelum bepergian ke luar negeri sebagai persiapan baju yang akan dibawa.

Sesampainya di Amsterdam Central Station aku langsung menghubungi Ilus serta memberikan location. Karena saat itu aku menggunakan jaket yang ada hoodienya, dan hoodienya sedang aku pakai(karena dingin banget!) dia bilang bahwa dia berada dibawah Jam dinding di main hall, padahal aku juga disitu! Setelah aku buka sambil memandang sekitar ternyata ia berada di belakangku.

“Woiiiiii”, teriak kami berdua dengan muka sumringah. Akhirnya kita bisa bertemu di negeri orang. Sambil jabat tangan dan tendang-tendangan #eeehh maksudnya berpelukan ala pemain sepakbola yang baru mencetak gol di akhir pertandingan. Setelah itu kita bingung mau kemana karena memang belum merencanakan tempat-tempat yang akan kami tuju.

Akhirnya kami melakukan eksplor habis-habisan di wilayah Amsterdam Central. Puas berfoto-foto di depan Amsterdam Central kami menuju ke Dam Square, lalu menyusuri kanal-kanal yang belum pernah kami lewati.
Amsterdam Central Station

Amsterdam Central Station

Penampakan Ilus di Amsterdam Central Station

Foto di depan Dam Square

Foto di depan kanal

“Lus, udah makan belum?”, tanyaku sambil memegang perut yang sudah tidak tahan menahan lapar.

“Belum nih, kak!”, ujarnya.

Lalu kita bingung mencari makanan yang halal, enak dan murah pastinya. Setelah berbagai pertimbangan antara kebab, waffle, churros dan kentang goreng maka pastilah kami milih kentang goreng. Selain murah juga kenyang! Aku memesan ukuran large, ternyata ukuran large nya memang large. Kayaknya itu kentang satu bungkus digoreng lalu dijual dengan ukuran large. Gede banget! Aku aja heran itu gak habis-habis! Biarpun laper tapi kan gak gini-gini juga. Cuman makan kentang yang gak pake saos. Hambar men! Abisnya kalau pake saus nambah lagi harganya, jadi ya mending gak usah.

Makan kentang goreng untuk lunch didepan Red Light District

Sambil duduk dipinggir kanal ditemani burung-burung yang gak tau namanya itu. Memandang orang-orang yang sedang tour naik perahu dan ternyata disebrang kita ada beberapa jendela kaca yang ada orang didalamnya.

“Ehh itu orang ngapain?”, tanyaku.

“Waah gak tau”, ucap ilus sambil membuka google maps di HPnya itu.

Jalan untuk keluar dari Red Light District

Ternyata itu adalah Red Light District. Tahu kan tempat prostitusi yang terkenal seantero jagad raya itu ternyata di depan kita. Padahal tidak ada tanda apapun disitu, dan seperti toko-toko lainnya pikir kami. Kami pun segera bergegas untuk jalan-jalan lagi. Lalu kita berencana untuk ke tempat yang ada tulisan “I amsterdam” yaitu di Rijk Museum. Jaraknya tidak jauh mungkin sekitar 500 meter dari tempat yang kami singgahi tadi. Di jalan menuju museum aku sudah membayangkan bakal foto-foto dengan berbagai macam sudut. Kalau belum foto di depan tulisan “I amsterdam” berarti anggap saja belum pernah ke Amsterdam, pikirku.

Sesampainya disana ternyata diluar ekspektasi. Ternyata banyak sekali orang-orang yang sedang foto sambil naik-naik keatas tulisan itu.

Sudut kota sebelah Van Gogh Museum

“Kampungan banget ya lus mereka, kayak gak pernah ke Amsterdam aja!”, ujarku kepada ilus. Padahal aku sendiri baru pertama kali ke Amsterdam! *Langsung di serbu massa.

“Biarpun mereka kampungan, tapi aku pengen juga lus foto kayak mereka!”, ucapku dengan jawaban ilus yang cuma hammm heemmm hammm heemmmm aja.

Perjuanganku untuk foto naik-naik ke tulisan itu memang lumayan lama. Pertama kami menunggu sambil berjalan-jalan sekitar, lalu setengah jam kemudian ternyata masih belum sepi juga! Akhirnya aku memutuskan untuk antri dibelakang tulisan. Daripada nanti cuacanya gak bagus kan fotonya gak bagus juga! *alasan yang cukup logis.

Setelah giliran datang aku langsung naik di huruf T, kenapa memilih huruf T ya karena T for Taufik, no longer for I amsTerdam. Akhirnya meskipun ada ibu-ibu yang ikutan foto dibawah, berhasil juga bisa foto di tempat ini. Tempat sakral bagi orang yang berkunjung ke Amsterdam.

Perjuangan menaiki tulisan I Amsterdam

Akhirnyaa

1....2.....3......

Disekitar tulisan I amsterdam tersebut ada beberapa tempat spot yang bisa dikunjungi:
1.       Pasar yang saat itu sedang buka di depan tulisan I amsterdam itu. Kurang tahu pastinya apakah memang itu dibuka setiap hari atau cuman temporary.
2.       Taman di depan pasar.
3.       Taman di depan Rijk Museum.
4.       Museum Van Gogh.
5.       Science Center NEMO.


Taman di depan Rijk Museum

Karena setelah melihat pasar yang harganya sangat mahal maka kami tidak membeli apapun, jadinya kami hanya duduk-duduk melihat disekitar sambil memandang orang-orang foto didepan kolam dan di depan tulisan I amsterdam itu.

“Lus, tadi aku lihat gedung modern yang asik”, sambil menunjukan jalan kearah sana.
Pasar didepan Rijk Museum(Di belakang itu terdapat tulisan I amsterdam)

Jalan menuju Museum Van Gogh

Ternyata gedung tersebut adalah gedung Museum Van Gogh. Jadi bentuk gedungnya itu cukup beragam, namun yang paling menyita perhatian adalah gedung utamanya yang berbentuk seperti bath up kamar mandi. Lucu sih memang, tapi kenapa bentuknya mirip bath up kamar mandi ya? This was a big question that should be broken down afterall. Uniknya lagi untuk bagian bawah dari gedung ini merupakan café-café yang berjejer dari berbagai sisi. Pastinya kita tidak masuk café maupun museum itu. Karena disebelah museum Van Gogh ada gedung yang unik lagi, maka kami kesana. Disana seperti tempat nongkrong yang mengikuti aliran Go Green. Disatu sisi terdapat terasiring yang biasa digunakan untuk melihat pemandangan sekitar, mungkin 15 meter dari tanah. Disekitar situ sangat hijau bahkan bisa melihat Rijk Museum dari situ serta berbagai sudut kota Amsterdam.

Museum Van Gogh

Museum Van Gogh

Tempat nongkrong diatas gedung Van Gogh

Pemandangan depan Museum Van Gogh

Pemandangan sekitar Museum Van Gogh

Setelah itu karena teriknya matahari kami berusaha untuk pergi ketempat yang lebih teduh, yaitu Taman di depan Rijk Museum. Ditaman itu terdapat beberapa Art yang mungkin hanya pembuatnya yang mengerti maksudnya. Misalnya saja pancuran yang berbentuk aneh, berwarna warni. Dibagian bawah pancuran terdapat kaki wanita jenjang yang hanya menggunakan rok pendek lalu diatasnya tidak tahu itu bentuk apa.
“Mungkin ini salah satu bukti kebebasan berekspresi bagi warga Amsterdam”, pikirku dalam hati sambil mencari kursi yang kosong.

Akhirnya kami hanya menemukan 1 kursi kosong tepat dibawah pohon besar yang sepoi-sepoi. Enak banget! Akhirnya setelah mencari-cari lagi aku menemukan 1 kursi yang berada di dekat 2 orang pakistan yang sedang mengobrol. Karena udah capek dan panas, maka dengan segera aku mengambil kursi kosong itu.

“Haaaaaaaaaaaa”, itulah ekspresi mereka berdua sambil menunjuk-nunjuk kearahku. Ekspresinya seperti melihat maling yang sedang mengambil sesuatu yang berharga darinya.  Sekitar 3 detik ekspresinya belum hilang dan akupun langsung kaget sambil memandang kearahnya.

“W w w w wha a a a t t t ‘s s s  w w rong?”, sambil terbata-bata karena aku sendiri ikutan kaget melihat ekspresi mereka yang tidak wajar itu.  Karena terlanjur memegang pegangan kursi maka sambil takut-takut aku menatap mereka. Atau memang aku mencuri, mencuri hatinya mungkin? #eaaa #skip. Dia dengan wajah shock nya itu sambil mengiyakan dan tidak kenapa. Lalu aku ambil kursi itu untuk mencari tempat paling adem disitu dengan pemandangan anak-anak kecil bermain air mancur. Dan kedua wanita itu pergi setelah beberapa menit kemudian, dan cerita END! Masih terbayang muka mereka berdua saat kaget itu, sampai saat ini men!

Sekitar setengah jam kami selesai beristirahat sambil menghirup udara sepoi-sepoi maka Ilus mengajak kembali ketempat lain. Sayang kan, di Amsterdam cuman duduk-duduk aja.

“Kak, ayo kita ke wilayah yang banyak kanal besar”, sampai sekarangpun dia masih memanggilku kakak, padahal kan kita seumuran! Bahkan umur kami hanya terpaut beberapa hari, ya meskipun aku lebih dulu lahir tetap saja kami seumuran. Dasar! 

Akhirnya setelah berjalan cukup jauh sampailah kami melewati Amsterdam Central disisi sebelah kanan, disitu terdapat kanal yang sangat besar dibandingkan kanal-kanal yang sebelumnya pernah kujejaki.

Foto Ilus di pinggir kanal

“That’s nice lus”, kami berjalan menyusuri kanal tersebut bagaikan menyusuri pantai, angin yang kencang serta kanal yang luas. Beberapa ratus meter didepan kami terdapat sebuah jembatan putih lalu aku bertanya kepada ilus.

“Itu apa lus?”

“Itu jembatan kak, depannya ada Science Center NEMO. Nanti kita naik kesana”, sambil menunjuk arah gedung yang cukup besar dipinggir kanal yang terletak di seberang jembatan.

Gedung pinggir kanal menuju Science Center NEMO

Selfie diatas jembatan. Pardon my face!

Pemandangan dari jembatan

Pemandangan kanal yang luas

Foto di pinggir kanal

Selfie di atas Science Center NEMO, Asiikkk!

Pemandangan dari atas Science Center NEMO

Pardon our faces, tram menuju Apartemen

Sesampainya disana kami langsung naik keatas gedung untuk menikmati sore yang indah disana. Disana disediakan kursi-kursi mirip kursi pantai yang sangat enak untuk menikmati hangatnya mentari dengan hembusan angin yang menusuk kulit. Gedung ini bentuknya seperti berundak sehingga sangat nikmat melihat pemandangan dari atas gedung dengan pemandangan kanal yang besar serta indahnya kota Amsterdam dari ketinggian. Dan yang pastinya tidak dipungut biaya apapun, yaitu gratis!

===

Sesampainya di apartemen kami langsung memasak Indomie, karena sepertinya Ilus sudah rindu sama masakan Indonesia, padahal kan gak ada seminggu lagi dia sudah bertandang ke Indonesia. Karena dari tadi siang sudah janji dengan Majid namun tercancel, maka Majid aku suruh datang ke Apartemen. Belanjaan kami segera kami bongkar, lalu kami berencana memasak macaroni pasta. Saya dan Majid kebetulan benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk memasak, sehingga Ilus lah sebagai seorang perantau yang seharusnya bisa masak.

Ilus di kamar

"Boring......."

"Boring......"

"Boring..........", keluh majid sambil memencet tombol berkali-kali yang ada di remote TV dapur. Sambil menunggu Ilus masak, kami sedikit ngobrol sambil mencari acara TV yang bagus, meskipun gak nemu nemu.

"Aaaaa, The Lord Of The Ring", ucap majid sambil menceritakan bahwa session ke 3 Film ini adalah session paling bagus diantara triloginya yang lain. Alhasil kami menonton TV dan makan malam macaroni pasta buatan Ilus.

"Don't put it too much", ujarku sambil mencegah Majid menaburkannya terlalu banyak.

"It's nice..........", ucap Majid sambil memakan macaroni pasta dengan taburan Bon Cabe(Salah satu brand cabe kering) dengan level 15. Sebagai orang eropa, pastinya makanan pedas bukanlah hal yang biasa mereka makan, sehingga aku takut kalau dia sakit perut karenanya. Apalagi level 15! Aku gak tau pastinya sih sampai level berapa Bon Cabe ini. Tapi biasanya aku cuman beli yang level 4, baru kali ini yang level 15! Kebayang kan betapa pedasnya di mulut?

Di dapur saat makan macaroni pasta

"It will be nice at first, but you'll get burned at your mouth!", ucapku. Memang pertama kali tidak berasa pedas, tetapi setelah selesai makan barulah berasa.

"OOohhhh goodddddddd, so spicy!", ujar Majid. Ya kaan, udah dibilangin sih! Kepedesan kan jadinya! Walaupun aku agak panik, tapi ya udahlah ya. Anehnya dia cuman ambil minum aja. Setelah itu dia malah mengambil Bon Cabe lalu dituangkan ke tangannya dan dimakan mentah-mentah!

"What the hell are you doing, dude?", ucapku dalam hati. Ini orang aneh banget!

"In the cafe we can play table tennis, do you guys want to get there?", ucap majid sambil membersihkan piring yang telah ia pakai untuk makan.

Kami berdua pun mengiyakan ajakan Majid, biarpun waktu itu sudah pukul 11 malam lebih. Sesampainya dibawah kami langsung menempatkan meja tenis ke tempat yang lebih terang. Disitu memang sudah dimatikan lampunya, tetapi masih ada beberapa mahasiswa yang berkumpul hanya sekedar ngobrol maupun memesan kopi aja. Lalu pertandingan dimulai. Kami pun bermain tenis meja bergantian. Sebenernya aku berfikir, ini si Majid ga punya rasa capek apa ya? Kemaren tengah malem ngajakin main bola, sekarang ngajakin tenis meja! Aku yang sudah capek dan kewalahan pun memang harus mengakui kelihaian Majid dalam bermain tenis meja. Padahal kan gelap, dia masih bisa aja nangkis bola!

Tenis tengah malam


Akhirnya setelah hampir satu jam kami bermain, kami sudah lelah dan mengakhiri permainan kami.

"See you........"

Amsterdam, 22 Juli 2015
15:55