Aku adalah masa kecilmu

17.37




Guubbbraaaakkkkk!!!!!!!!

Nafasku menjadi tidak menentu dengan mata sayup sayup dalam kegelapan.Sangat gelap.Disaat itu dalam posisi tertelungkup akupun langsung meraba tangan ku,memastikan bahwa tak ada yang lecet sedikitpun.Terkilir rasanya saat itu tangan kiri ku saat ku pegang.Sakiit memang,tapi dengan sedikit pijatan yang kuarahkan langsung pada sendi siku bagian bawah membuat lengan itu menjadi lebih baik.Tangan kananku mulai memastikan organ vital lain nya,yaitu dada.Hembusan nafas tak beraturan mulai keluar sedikit demi sedikit dari mulut ini,terasa ada sesuatu yang cukup berat yang menghalangi jalannya pernafasan yang ada di dalam paru-paru ini.Mencoba mengatur nafas,kuhirup udara sebanyak banyak nya,udara yang tak tahu udara apa entah oksigen ataupun nitrogen yang kudapat,kumulai melepaskan sedikit demi sedikit udara tersebut.Sambil ter engah aku mulai membuka mata.Namun semua gelap,kucoba membuka mata selebar lebarnya,namun masih tetap gelap.Aku coba menyentuh lantai dimana ku pijak berkontur sedikit kasar dan berpasir.Kucoba merangkak untuk mencari tambatan disisi kanan kiri ku namun tak ada.Kucoba cari benda disekitarku dan lagi lagi tak ada.Tak ada makhluk lain di sekitar sini,sunyi dan senyap.

"Oh Tuhaaaan,apakah Engkau memberikan kebutaan pada mata hamba?" air mata menetes bersamaan dengan deru tangis yang menggelora dalam isi jiwa.

"Tempat macam apa ini",seruku dalam hati.Tak ada satu pun benda yang kutemukan di sini.Jangankan benda,sepertinya tempat ini tak ber-ruang.Bagaimana aku tak bisa menemukan dinding sekalipun itu terbuat dari kayu yang sudah lapuk.

"Apa salahku?mengapa?mengapa ini semua terjadi padaku?" kumulai mengerang dengan tangan mengepal dan menampikan kepalanku pada tanah yang sedang kupijak ini.Tetesan air mata menyentuh pipi hingga leherku.

"Ibundaaaaaaa,ayahandaaaaaaa,tolonglaah anakmu ini.Dimanaa engkau berada?",sambil dahi ku menyentuh tanah ini,bersujuuud,baru kali ini aku bersujud secara intens.Tangisanku tak ada hentinya,meratapi semua keadaan,bahkan akupun tak tahu seperti apa keadaanku saat itu,aku pun tak tahu keadaan di sekelilingku.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkk" ku menjerit sekeras kerasnya,Akupun tersadar bahwa ayah dan bunda ku jauh berada di dimensi tempat yang lain.Di tempat yang harus berhari-hari aku menempuhnya.

Entahlah berapa lama aku harus menyadari semua ini,menyadari bahwa hidupku ini menjadi sangatlah gelap.
Sekarang aku menjadi tahu bagaimana menjadi orang buta,menjadi orang yang tidak dapat melihat.Namun,apakah ini hanyalah kebuataan pada mata?lalu bagaimana keadaan sekitarku yang hampa?

"Ahh",kutapakkan tanganku pada tanah,kucoba berdiri tanpa tambatan,keseimbangan yang sulit kutakhlukan.Dua kali aku terjatuh,menghela nafas sedikit,belajar menyeimbangkan tubuh atas 2x kegagalan yang terjadi sebelumnya.Kaki kanan mencoba menapak dengan bantuan dua tangan yang sudah menopang kaki itu.Kini kusudah berdiri dengan tangan seakan-akan menggerayang di sekitarku.Tanpa alas kaki,kaki kananku mencoba menapakkan satu langkah ke depan bersamaan dengan tanggan yang tiada henti-hentinya menerka-nerka sesuatu.Hingga limapuluh tiga langkah ke depan pun masih belum ku temui benda apapun.Saat langkah ke limapuluh empat ku pijakkan,aku merasakan kaki menyentuh sesuatu yang cukup becek. "Air...", dalam gumamku.Saat itu juga aku berfikir di tempat apakah aku ini?apakah aku sedang berada di tepi pantai?namun tak ada suara ombak,dan apapun.Apakah aku sedang ada di savana yang luas?atau aku sedang didalam gurun?Tanpa kusadari aku mencoba melangkah tiga langkah lagi.Badan mulai kubungkukkan,aku gabungkan telapak tangan bagian kelingking ku sejajarkan dan ku cembungkan sedikit kedua telapak tanganku.Tanpa pikir panjang tanganku langsung menyiduk air yang tingginya hanya 2cm itu.Pelan-pelan kucoba ambil air itu,supaya tidak keruh,meskipun aku tak tahu apakah air itu memang keruh atau tidak.Ku dekatkan kepala ku sambil menunduk mendekati tanganku,bibirku yang sudah kering ini tak kuasa mengambil alih air tersebut bahkan hal itu kulakukan berkali kali.Setelah dahaga sudah mulai beranjak hilang,akupun mulai berjalan kembali dengan lebih hati-hati.Keadaan yang berair tersebut sangat fatal bila aku terpeleset didalam nya terlebih dalam keadaan buta.Langkah demi langkah ku tepiskan,sudah cukup lama ku berjalan menyusuri tempat ini,namun masih tak menemukan dinding untukku bersandar atau sebagai sedikit petunjuk.Saat aku berjalan menyusui tempat itu,aku hanya membayangkan, "Mungkin ini adalah suatu tempat yang indah,beruntunglah wahai kawan yang dapat melihatnya" itu saja gumamku dari tadi sembari menghibur perasaan gundah ini.
Langkah demi langkah di tempat yang sangat lembab ini,tak ada suara angin,udara seakan tak bergerak dari tempatnya,hingga ku memijak sebuah kerikil kecil di telapak kaki kiri.Kuambil lah kerikil itu,dan semakin bertanya tanya pada benakku," tempat apakah sebenarnya ini? Masa bodohlah..",pikirku.Cukup lelah memang berjalan seperti keadaan sekarang ini.Tepat 5 langkah dari kerikil yang aku injak tadi aku menemukan tembok,ya tembok.Namun bukanlah tembok seperti di rumah-rumah yang aku bayangkan,bukanlah tembok seperti di kastil-kastil yang aku pikirkan,setelah kuraba-raba mungkin tembok tersebut tidak beraturan,kasar seperti bebatuan kecil yang di tumpuk pada suatu tempat.

"Apakah ini adalah dasar dari sebuah tebing?" , ujarku.

Tangan kiriku mulai mengikuti jalan dari dinding tersebut,aku berjalan ke arah kanan dari saat ku pertama menemukan tembok itu,atau apalah itu.Seakan akan tembok tersebut berbentuk seperti tiang namun dalam diameter yang sangat besar,sehingga aku berjalan seperti setengah lingkaran yang cukup besar.

"Apa itu?..",dalam hati ku bertanya setelah aku melihat sesorot cahaya yang kecil dari kejauhan.Posisi cahaya itu datang dari atas,seperti cahaya yang muncul pada genteng yang bocor.

"Apakah Tuhan memberiku rejeki dengan dapat melihat cahaya itu?ataukah ini hanyalah imajinasi yang tercipta dalam benakku?",dalam otak ku bertanya-tanya.

Kulepaskan pegangan ku pada tembok yang melingkar itu,kuarahkan langkah ini pada cahaya itu.Setelah mendekat,aku semakin membelalakkan mata ini.

"Bukankah aku buta?Lalu kenapa aku bisa melihat cahaya ini?" ,dalam benakku bertanya.

Tepat di hadapanku cahaya itu,cahaya yang muncul dari sebuah lubang,lubang yang berada tiga meter diatas ku.Beruntunglah aku melihat cahaya itu,dan ternyata aku tidak buta.

"Terima kasih Tuhan atas rahmat yang Kau berikan",ternyata aku tidak buta.Mungkin aku sedang berada di dalam suatu Goa yang sangat panjang dan lebar.

Aku mendekat kepada cahaya itu,ternyata dibalik cahaya itu ada tembok,mungkin ini adalah ujung dari tempat ini.Ada anak tangga lokasinya berada 1 meter dekat dengan lubang diatas itu,anak tangga yang sangat rapuh,kusam,dan sudah berumur.Sepertinya anak tangga tersebut sudah bertahun-tahun tidak digunakan.Semangat ku semakin menggelora terlebih ada anak tangga yang bisa menyelamatkan ku dari tempat ini.Kupasangkan anak tangga tepat di sebelah lubang itu.Dengan hati-hati kupijakkan kaki ini pada anak tangga pertama,tiga meter itu cukup tinggi bila tidak menggunakan anak tangga,setinggi atap kamar kita sendiri.Karena tanah dibawah bercampur dengan air,mungkin anak tangga ini tidak dapat stabil menopang badan ku ini.

"Kreeekkk", dan benar pikiranku bahwa satu anak tangga yang tepatya ada di paling bawah patah.Jatuh lah aku dengan keadaan becek dan kotor semua baju dan tanganku.Aku berfikir keras dan berdoa semoga minimal hingga anak tangga ke 5 yang tingginya sekitar 2 meter tidak ada kayu yang patah lagi.Mungkin tadi karena aku terlalu bersemangat untuk lekas keluar dari tempat ini.Diatas aku melihat langit berwarna biru,biru yang dihiasi dengan awan tipis yang bergerak dengan cepatnya.Satu langkah hati hati kusematkan pada anak tangga kedua,hingga anak tangga ke 5.Syukurlah tanganku sudah bisa menggapai mulut lubang yang berdiameter sekitar 70cm tersebut.Lubang itu memang cukup kecil untuk dilalui seseorang.Sangat kecil.
Kuraih dengan tangan kananku bibir lubang itu,sedikit demi sedikit ku kurangi tekanan ku pada anak tangga yang sedang ku pijak itu.

"Hahahaha,@#!#&!#%^!%!#$",suara kegembiraan dan keriuhan dari luar sana,semakin membuatku semakin semangat.Kepalaku masukan terlebih dulu dalam lubang itu,kurasakan angin yang semilir lembut,kuarahkan mataku ke atas,kunaikan sedikit kepalaku hingga mataku bisa melihat apa yang terjadi disekitarku.

"Luaaarrr biasaaaaa",gumamku dengan senyum merekah.



Kuangkat badanku hingga keluar dari lubang itu,dan sekarang tinggal kaki ku yang masih belum terangkat.Itu karena aku masih takjub dengan keadaan yang kulihat saat itu ditemani dengan cahaya matahari yang cukup menghangatkanku.Aku tak percaya,aku tak pernah melihat orang-orang seperti ini.
Dari kejauhan ada anak laki-laki berumur sekitar 7 tahun berlari mendekat ku dan dengan wajah yang sangat ceria.Kulihat anak itu membawa sebuah tas kecil berwarna coklat yang akupun tak tahu apa isinya,setelah dia mendekat dengan senyum termanis nya dia menjulurkan tangannya.


"Ayo kak,pegang tanganku", ujarnya.Namun akupun masih belum sadar ada anak kecil yang sangat terawat,bersih dan tampan ini berlari mendekatku.

"E e e h iya",ujarku.Langsung kuraih tangannya,dia berusaha membantuku untuk keluar dari lubang itu.Dan akhirnya seluruh tubuhku bisa beranjak dari lubang gelap tadi.

"Terima kasih nak",ujarku dengan senyum termanis ku.Wajah lelah,kotor dan capek pun tidak bisa kusembunyikan,dengan sigap anak itu membuka tas cokelat tadi yang ternyata berisi 1 botol air putih.

Anak itu hanya tersenyum dan memberikan botol itu kepadaku.

"Minumlah dulu,kau sudah berlari-lari alangkah baiknya bila kau minum terlebih dahulu",anak kecil itu langsung mengambil minuman itu dan hanya seteguk yang ia minum,betul.Hanya seteguk dan tidak lebih.Seberapa banyak satu tegukan anak berumur 7 tahun? Dia tidaklah haus,mungkin dia benar-benar tahu bagaimana cara menghargai seseorang.

"Habiskanlah kak",ujarnya sambil tertawa.Mungkin dia menertawakan bahwa kenapa aku bisa sekotor ini.Tanpa pikir panjang aku langsung menghabiskan air yang sudah di tawarkan anak kecil itu kepadaku.Sembari aku menghabiskan air,anak itu menyiapkan sesuatu didalam tas nya.

"Ini kak,kakak ganti baju di belakang semak itu,disitu tidak ada orang,dan disitu juga ada sedikit air untuk membasuh wajah kakak",ujarnya.

Diantarnya aku ke semak itu,dan kubasuh semua wajah dan bagian tangan serta kaki ku yang kotor ini.Lalu kutanggalkan baju dan kupakai baju pemberian anak itu.Pas sekali ukurannya,tidak kebesaran dan juga tidak kekecilan.Lalu kutanya anak itu, "Siapa namamu nak?",tanyaku lembut. "Kakak tak mengenali ku?aku dewa kak",jawabnya.

Aku berfikir dalam benakku bahwa hanya satu nama dewa yang ku kenal yaitu adik kecilku yang masih berumur 1 tahun.Apakah dia itu adalah bidadara kecil yang turun dari surga yang bernama dewa?atau kah dia itu memang dewa?Entahlah dalam pikirku.

Dewa tiba-tiba lari seperti sedang bersembunyi dengan melihat orang yang ada di belakang tembok putih besar itu.

"Tembok putih besar,tembok macam apa itu?",gumam ku.Sedari tadi suara riuh kebahagian terdengar namun hanya ada dewa seorang.Aku mulai mendekat ke tembok besar itu,lalu dewa berkata "Kak,jangan keras-keras,nanti ketahuan",ujarnya sambil mendekatkan jari telunjuknya ke bibirnya.

"Oh iya kak,aku hanya berpesan kepada kakak,berlarilah sekencang mungkin kak",ujarnya kembali.Dan akupun sama sekali tak mengetahui maksud dari apa yang dewa ucapkan itu.

Dengan rasa penasaran,ku tengok di balik tembok besar itu.Ternyata adalah orang-orang yang kulihat pertama kali aku keluar dari lubang tadi.
Aku heran, "Apa maksud dari semua ini?".Orang-orang berlarian sambil membawa buku tebal,orang-orang berlari menuju suatu pintu gerbang.Pintu gerbang itu berwarna-warni dan ukurannya seperti gerbang menuju istana Kepresidenan.gerbang itu pun berbentuk sangat elegan,bersih,tinggi dan didalam nya putih.
Saat hendak bertanya kepada dewa,ternyata anak kecil itu sudah lari menjauh dari ku dan ternyata mereka sedang bermain dengan kawannya.

Aku mendekat ke salah satu gerbang yang berwarna merah,betul sekali warna merah.Aku melihat di pintu gerbang ada sebuah Alat yang sangat canggih seperti timbangan namun sangat modern.
Semua orang yang akan masuk ke gerbang tersebut haruslah ditimbang dulu badan nya.Bukan berat nya namun adalah Kemampuan dan kepribadiannya.Akupun terkejut. "bagaimana bisa ada timbangan yang menimbang kemampuan dan personalitas seseorang?bagaimana ada manusia bisa menciptakan hal tersebut?",ujarku dalam hati.
Mereka berlari-lari menuju gerbang yang mereka inginkan.Mereka sambil berdoa,berdoa agar dapat masuk di gerbang tersebut .Seolah olah mereka tak ada yang tahu keberadaanku,"Apakah aku semu?"ujarku dalam hati.Orang lain pun menangis-nangis ketika ia tak lolos dari timbangan.
Aku coba masuk gerbang itu tanpa syarat apapun lalu aku melihat orang-orang lari mengejar mimpinya,mereka seakan tahu apa yang ada tepat di depan matanya,mereka bahkan tahu apa yang mereka lakukan,tak ada yang berjalan santai.Hanya aku yang berjalan,berjalan tanpa ada beban.Luar biasa pikirku dengan semua kemajuan jaman seperti sekarang ini memanglah mereka berlari sekencang mungkin,semua perusahaan memberikan produk-produk terbaru da termutakhir demi meraih pelanggan terbanyak.

Sekarang mungkin aku tersadar bahwa dewa menyuruhku agar,agar aku berlari meraih mimpiku,meraih apa yang aku cita-cita kan.Sungguh anak kecil yang sangat membuat hatiku tergetar.Aku pun duduk dilantai termenung memikirkan apa yang telah aku lakukan selama ini hanyalah berjalan dengan santai.Dan aku sadar didalam kegelapan yang aku temui tadi adalah suatu pembelajaran bagiku untuk perjuangan keras hidupku.


Dan saat itu aku ingat anak kecil bernama dewa tadi,kuhampirinya dia di tempat bermain tadi.
Di kejauhan dia terlihat lelah bermain dengan kawan nya,aku langsung duduk di depannya sambil mengusap kepalanya "Dewa,tolong kasih tau,dimana sekarang kakak berada",tanyaku kepada nya.

"Di dimensi waktu 14 tahun yang lalu",jawabnya.

"Apa maksudmu?",tanyaku sembari kaget mendengar jawabannya.

"Aku adalah masa kecilmu",jawab Dewa






Author,
Taufik Fitriyanto

You Might Also Like

0 komentar