Lelah yang hilang seketika saat berada di Amsterdam.

“ZIP code nya apa ya?”, ujarku sambil kebingungan melihat sebuah amplop yang isinya adalah kunci kamar. Setelah sesampainya di apartemen, tanpa menunggu panjang langsung menyalakan laptop untuk memberi kabar via internet. Sebelumnya kami sudah diberi tahu untuk mengharuskan kami membawa kabel LAN(ethernet cable) untuk internet, karena disini tidak tersedia wifi. Adapun wifi namun harus ke café atau sport centrum terlebih dahulu. Saat melakukan registrasi aku memasukan beberapa informasi yang harus diisi, seperti nama apartemen, alamat, nomor kamar dan ZIP code.

“ZIP code?”, kataku sambil mencari tulisan yang berisi gabungan 4 angka dan 2 huruf itu. Setelah dicari ternyata tidak ada!

“Bagaimana ini?”, sambil kebingungan. Kebingungan mulai karena internet adalah salah satu media untuk mengerjakan tugas kampus nantinya.

Saat itu terdengar suara dari ruang dapur.
“Ahhaaa”, sambil lari ke dalam dapur yang ternyata ada seorang berkulit negro sedang memasak. Dia seperti memasak tepung yang di isi air dalam loyang. “Entahlah itu makanan apa”, pikirku dalam hati.

“Haloooooo”, sapaan ramah terhadap semua orang disini. Di belanda kita tidak perlu sungkan untuk “say hi” kepada setiap orang yang kita temui. Lalu dia membalas sapaan itu sambil menyunggingkan senyum simetrisnya keatas.

“I have a problem with my internet registration, when I was entering codes that should be filled in the form. I need an information regarding the ZIP Code of this building”, ucapku bertanya.

Saat itu entah dia masih kaget atau kebingungan ia masih tidak mengerti maksudnya ZIP code. Lalu aku berfikir lagi sebuah kata-kata ZIP code. Post Code! Setelah itu dia mengerti dan menuliskannya pada sebuah sticky notes.


Alamat serta postcode Apartemen

Setelah lari ke kamar lalu aku masukan code tersebut dan that is working! Finally got that life. Pada jaman sekarang tak dapat dipungkiri kita tidak dapat hidup tanpa internet. You guys in favor with my argument?
Ternyata waktu menunjukan pukul 19:30 meskipun masih terang benderang dan panas. Langsung buru-buru mandi karena tadi sudah ada janji dengan seseorang teman di café pukul 20:00. Seperti yang kita tahu, orang-orang disini sangatlah tepat waktu. Lima menit terlambat pun ya tetap terlambat! Itulah kenapa aku segera mandi supaya tidak terlambat. Lokasi café hanya berada di bawah apartemenku ini, jadi  sangatlah dekat. Pada pukul 20:00 tibalah dia di depan café, langsung kupanggil dia.

“Majiiid!”, teriakku di depan café. Seorang anak laki-laki dengan postur tubuh yang kurang lebih sama denganku, berwajah pakistan asli.


Suasana di depan kafe. Kafe sebelah kiri dan minimarket sebelah kanan.

“Haiiii”, ucapnya. Memang aksennya sangat kentara, yaitu british. Aksen british memang aksen yang cukup susah di mengerti dibandingkan semua aksen orang-orang barat lainnya. Dia adalah Amsterdam Summer Course student juga yang berasal dari UK(United Kingdom). Meskipun kami berbeda course, tetapi tadi saat perjalanan ke apartemen kami sudah janjian.

“Taufik, I will go to café at 8”, ujarnya tadi. Lalu saya mengiyakan.

Setelah bertemu dan sedikit ngobrol akhirnya kami menentukan untuk pergi ke kota.

“I want something beautiful out of there to go Amsterdam Centrum, if you don’t mind so we can go there right now”, ucapnya. Sambil membuka map yang diberikan oleh panitia Amsterdam Summer School.

“Do you know how to get there?”, tanyaku sambil menunjuk Amsterdam Central pada peta.

“I am not sure actually, but may we use tram number 5 to go central”, ucapnya dengan nada pelan.

“Just let go, just let get lost in Amsterdam!”, ucapku dengan semangat.

“Are you really?”, tanyanya dengan ekspresi yang sangat excited.

“Yes, I am. I want to explore Amsterdam more”, jawabku meyakinkan.

Dengan penuh semangat kami berjalan menuju halte tram(subway) yang berada dekat dengan apartemen kami. Ternyata memang benar bahwa apabila akan pergi ke Central harus menggunakan tram nomor 5.
Setelah berada di dalam bus aku bertanya. “How to pay this tram?”

“I don’t know, maybe there will be a staff going here and ask money to buy a ticket.”, jawabnya dengan ragu.

Karena memang waktu itu cukup ramai dan kita duduk dibelakang, maka sampai kami di tempat pemberhentian Amsterdam Central pun kami tidak menemui seorang kondektur atau staff yang meminta uang untuk membayar tiket. Setelah turun aku bertanya, “How to pay the ticket?”. “I don’t know, everyone doesn’t buy a ticket so we do”, jawabnya.

“Ohh okay”, jawabku dengan cukup tenang. Let it go saja pikirku.


Salah satu kanal di Amsterdam


Foto dipinggir kanal

Sesampainya disana, kami pergi ke berbagai tempat sambil ngobrol-ngobrol. Kita melihat-lihat souvenir dan makanan-makanan yang ada disana. Sesekali kami duduk di pinggir kota melihat indahnya kota amsterdam. Melihat kanal-kanal yang sebelumnya belum pernah kita lihat. Karena sebelumnya aku sudah makan malam, maka Majid yang mulai kelaparan berkata.

“I need something to eat, I haven’t eaten dinner”, ucapnya dibawah sebuah gedung tua dengan ornamen jam besar yang sedang menunjukan pukul 22:30.

Sambil berjalan menyusuri kota, kami melihat makanan di sepanjang jalan. Banyak sekali makanan disana, namun karena Majid juga seorang muslim maka ia mencari tempat makan yang halal. Di seberang pemesanan tiket “Canal Tour” terdapat masakan turki yang menggoda. Akhirnya Majid memesan sebuah makanan yang aku tidak tahu namanya. Sambil duduk lalu HP nya berbunyi.

“Ting tung”, suara yang berasal dari HP majid.

“Wifi!!”, ucapnya dengan muka sangat sumringah. Akupun juga ikut sumringah, menemukan wifi adalah surga bagi kami karena kami tidak membeli kartu provider yang bisa digunakan disana. Jadi semua komunikasi menggunakan internet, yaitu Wifi. Karena aku tidak memesan apapun, aku langsung ingat sesuatu. Aku buka wasapp dan mengetik sebuah nama, lalu menekan tombol call.

“Assalamualaikum, gimana jadinya? Kalau bisa pagian aja biar lebih enak”, obrolanku dengan sambungan di luar sana.

Setelah selesai, kami bergegas untuk mengeksplor kembali wilayah Amsterdam. Ke Dam Square lalu melihat berbagai pertunjukan yang ada disana. Karena kami takut salah arah, kami mengikuti jalur tram nomor 5. Disitu kami sering berdebat.

Di depan DAM Square

“You are in a wrong way man!”, ucapku.

“No, no! By this way”, jelasnya.

“Don’t you remember this building? We were crossing close to this building!”, jelasku sambil menunjuk sebuah gedung tua yang bagian atapnya sedang di perbaiki.

“Ha! I remember. Yes, by this way!”, serunya sambil mengikuti langkahku.


Salah satu sudut kota Amsterdam
Beberapa kali memang kami berdebat dengan jalan, karena kami tidak hafal dan memang banyak gedung yang mirip sehingga sulit bagi kami menghafal jalan yang kita lalui pada pertama kalinya berkunjung kesana. Tapi tetap, obrolan kami tak pernah habis. Sepanjang jalan kami menikmati suasana kota metropolitan yang tidak berpolusi serta sangat humanis.


Dipinggir kanal depan Amsterdam Central Station

“Everyone’s biking here!”, ucapku.

“Yes, next Monday we need to get our bike!”, ucapnya sambil memandangi lalu lalang pesepeda di pinggir kanal. Lampu-lampu kuning pun menghiasi kota dengan apiknya.

Sebenarnya, sejak hari sabtu kami sangat berharap bisa menggunakan sepeda. Program Amsterdam Summer School memberikan fasilitas sepeda dengan Deposit 50 euro untuk 2 minggu sepeda. Namun karena waktu itu sudah malam, jadi bike rental campus sudah ditutup. Akhirnya mau tidak mau kami menggunakan tram. Padahal kami sudah membayangkan betapa indahnya apabila kami bisa jalan-jalan menggunakan sepeda ke kota, dan kalau dihitung-hitung itu akan sangat hemat!

Amsterdam adalah kota yang nyaman bagi pelancong. Banyak sekali wajah-wajah asia maupun aksen-aksen amerika atau masakan-masakan berbagai negara disana. Multikultural city, pikirku. Kota sebesar Amsterdam pastinya sangat menarik bagi warga pendatang, terlebih dari perputaran ekonominya pun sudah terlihat bahwa kota ini memiliki perputaran ekonomi yang menjanjikan. Keterbukaan warga Amsterdam pastilah menjadi kunci keramah tamahan Amsterdam. Bagaimana tidak, disini semua sangat bebas.
Setelah kami lelah berjalan kaki akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke Apartemen. Apartemen kami letaknya memang di pinggir kota Amsterdam, namun sangat dekat dan mudah aksesnya ke kota. Inilah kelebihan-kelebihan negara maju, sangat humanis. Mereka mengedepankan esensi daripada gengsi, seperti sepeda. Hampir semua orang bersepeda, persentase yang menggunakan mobil tidak banyak, apalagi sepeda motor yang sangat minoritas disini.

Sesampainya di Apartemen, dia bilang “May I go to your flat first?, I don’t know what should I do in my flat”, ujarnya. Sebenarnya kami bingung. Disini kami di University Housing untuk mahasiswa Amsterdam Summer School penginapannya terpisah. Ada yang di apartemen gedung A, B, C, atau bahkan Z. Sehingga kami sangat kesusahan untuk bisa lebih dekat satu sama lain. Tapi bagaimanapun masih ada cara untuk berkumpul dengan teman.

Di pojok koridor apartemenku ada sebuah bola. Dia langsung mengajakku bermain bola. Pukul 00:00 waktu Amsterdam atau GMT+1 terdapat dua orang mahasiswa yang sangat berisik di dalam koridor lantai 10 apartemen. Ya itu kami. Sambil teriak-teriak karena kami menendang-nendang bola yang berakhir dengan “Goooooooaaaaaallll!!!!!”, itu suara kami.


Lorong apartemen dan bola

Aku sebenarnya tidak enak sama kamar-kamar sebelah, karena takut mengganggu privacy mereka. Namun Majid bilang, “This is Saturday night, man! You don’t be afraid of all. Everyone’s partying!”. Akhirnya kami lanjutkan lagi permainan kami serta suara-suara kami. Memang tidak ada yang komplain mengenai hal tersebut, karena terlihat beberapa kamar pun mereka sangat gaduh dengan pesta musik yang mereka lantunkan. Mungkin suara kami masih kalah dibandingkan suara mereka yang sedang party. Dan party itu berlangsung di banyak tempat, seperti balcony maupun dapur.

Satu jam bermain bola dan 3 jam berjalan kaki membuat kami lelah. Akhirnya aku membuka pintu ujung Apartemen untuk mendapatkan angin segar, disitu terdapat tangga yang dapat digunakan untuk nongkrong.

“Ting tung!”, HP Majid berbunyi lagi.

“Wifiiiiiii!”, kita berdua serempak berteriak. Ya, sebegitu senangnya kami mendapatkan wifi. Akhirnya bisa browsing-browsing.

Pukul 01:30 Majid sudah terlihat mengantuk, jadi ia ingin pulang ke apartemennya. Setelah saya mengantarkannya sampai depan lift lalu kami memencet tombol lift.

“Why this button is not working?”, tanyanya.

“I don’t know. May be there is a limitation time for this lift working.”, ucapku.

“Aaa, Okaay. I will go down by this stair”, dan akhirnya Majid berjalan menuruni tangga dari lantai 10 untuk pulang ke apartemennya.

Amsterdam, 21 July 2015
23:04

Arrival day in Amsterdam

Arrival Day in Amsterdam.

Arrival day di Amsterdam sebenernya udah dari tanggal 11 Juli yang lalu, namun waktu itu langsung terbang ke munchen. Baru kali ini bener-bener ke kota Amsterdam.

Berkat Holland Writing Competition 2015 yang di adakan oleh NESO Indonesia, akhirnya sekarang aku bisa berangkat ke Belanda. Ada 2 orang yang berangkat ke Belanda setiap tahunnya untuk Summer School, yang satu lagi adalah Dianita yang seorang mahasiswa dari Cirebon. Beruntungnya kami mendapatkan kesempatan ini, meskipun berbeda kampus dan beda kota. Aku di Amsterdam dan Dian di Utrecht. Segala persiapan satu bulan yang cukup membuat was-was karena sedang sesi UAS dan banyak-banyaknya tugas. Kuliah di Fasilkom pada hari biasa pun sudah hectic, ditambah dengan persiapan ini+sesi UAS+tugas besar. Special thanks banget kepada Mbak Opit dan Mbak Rosa yang telah membantu segala persiapannya hingga berada di Amsterdam sekarang ini.
Untuk contact NESO:
twitter: studydibelanda
Facebook: NesoIndonesia

Amsterdam Summer School.
Sebuah program short course 2 minggu, dan kebetulan yang aku ambil adalah Dutch Culture. Lokasi tempat kami kuliah pun di tengah kota Amsterdam yaitu VU University. Setelah searching-searching ternyata VU University ini salah satu world top 100 university.

Sore itu setelah perpisahan dari Airport Munich yang cukup menyedihkan(Munich was so comfy for me. Homy) berpisah dengan pakde dan Opa, meskipun hanya satu minggu tapi I get that feel anyway. Penerbangan menggunakan lufthansa yang menurutku cukup “berani” pilotnya, ya entahlah menurutku lufthansa memang enak tapi “keberanian” pilot itu membuatku sedikit bergidik. Diiringi dengan ABG-ABG yang ber-selfie ria di dalam pesawat membuat penerbangan itu sedikit berwarna #skip.

Munich Airport

Sesampainya di Airport Schiphol aku langsung mendatangi Information center yang letaknya di dalam main hall.

Airport Schiphol

“Excuse me sir, I need to know how to get into Boolelaan?”, tanyaku kepada seorang petugas disana.

Main hall Airport Schiphol

“You need to buy ticket there and you can go downstairs for reaching your train”, ucapnya sambil menunjuk sebuah tempat penjualan tiket kereta.

“Thank you so much” teriakku sambil lari menuju tempat pembelian tiket.

Tempat pembelian tiket

Barang bawaan yang cukup banyak memang membuatku sedikit kewalahan, bayangkan saja koper yang berisi 13,5 kilo ditambah satu handbag besar ditambah lagi ransel. Ya, bawaan itu kebanyakan dibawa dari munchen atas beberapa barang yang akan dibawa balik ke Indonesia. Setelah membeli tiket dan bingung, karena di dalam tiket tidak tertera direction mana yang harus aku pilih. Meskipun sudah dikasih tau kalau harus mengambil platform 2, tetap saja berbagai macam kereta lalu lalang. Kan ga lucu kalau kesasar dengan bawaan segitu banyak. Lumayan melelahkan setelah berjalan dari ujung ke ujung( Airport Schiphol memang sebesar itu men, sebesar itu!).

Eskalator menuju underground station

“Excuse me, would you mind to inform me, which train should I take if I want to go boolelaan?”

Tiket underground train

Pertanyaan itu sudah aku sampaikan ke kurang lebih 5 orang dan tidak ada yang tahu. I got nothing here.
Daripada berlama lama, aku naik lagi untuk tanya ke Information center. Ternyata Boolelaan bukanlah nama sebuah stasiun, tetapi nama Subway! Jadi ya memang tidak ada kereta yang melewati Boolelan! Setelah dikasih tau bahwa harus mengambil jurusan yang memang tidak ada boolelaan itu. Ahirnya secara gambling aku langsung naik ke kereta. Ada seorang wanita muda, mungkin seumuran dan masih kuliah juga duduk sendiri di depan bagian gerbong.

“Excuse me, I don’t know what the train is, can I get into boolelaan by this train?”, tanyaku.

Bisa katanya. Aku menceritakan bahwa aku akan bertandang ke VU University, dan dia pun menjelaskan bahwa kebetulan rumahnya di dekat VU University, dan kita turun di stasiun yang sama. Dengan excited aku akhirnya merasa lega, dia menjelaskan aku harus turun di stasiun setelah ini. Aku berucap terima kasih berkali kali. Aku pun di jelaskan bahwa kalau jalan kaki harus lewat mana.

Setelah keluar stasiun akupun langsung bertanya ke information center untuk menanyakan letak VU University main building. Dia pun menjelaskan dengan cukup rinci. Pertama keluar langsung ada tulisan “I amsterdam” di dekat gedung-gedung. Konon tulisan “I amsterdam” itu ada yang permanen dan ada yang pindah-pindah, dan hari itu mungkin memang sedang dipindah kesitu. Wooowww, tapi sayangnya aku tidak punya waktu berlama-lama untuk segera ke kampus karena Orientation program akan segera berakhir dan aku harus mengambil kunci.

I amsterdam sekitar kampus

Jadi sebenarnya, ada pick up service yang disediakan di Airport Schiphol. Pick up service itu hanya dalam rentang waktu pukul 09.00-14.00. Setelah itu dilanjutkan dengan Orientation program dari jam 4 sampai jam 6. Sedangkan aku baru keluar Airport jam 5 lebih 15. Makanya aku harus ngejar orientation program, karena disitu aku dapat kunci kamar housingku yang terletak di Uilenstede.

Perjalanan menuju ke kampus

Sesampainya dikampus yang harus berjalan sekitar 500 meter dengan kontur jalan yang tidak rata(karena disana ada jalan untuk pejalan kaki dan untuk sepeda), akhirnya sampai di depan kampus.
“Finally!!!!!”, teriakku dalam hati.

Main building kampus VU University

Tapi baru sampai di depan gedung, ada sekitar 20 orang yang keluar. Tiba-tiba ada 2 orang wanita yang lagi-lagi seumuran mengenakan baju bertuliskan “Amsterdam Summer School” menyapa ku. Dan mungkin dia panitianya.

Ia bertanya “Are you attending for Amsterdam Summer School?”. Jawabku mengiyakan. Dia bilang kalau Orientation program sudah berakhir, dan dia memanggil temannya yang notabene adalah pemegang kunci hatiku #ehhh salah kunci apartemenku maksudnya.

Setelah itu aku diberi kunci dan kita bersama-sama naik tram untuk pulang ke Apartemen. Di jalan mereka bercerita “Guuyyyyysssss, just see that. That restoran was really really tasty, you need to go there someday”, ucapnya. Karena memang panitia pastinya tahu betul wilayah itu. Dan ternyata restoran ditunjuk itu adalah berjudul “Java Culinary”.

Tidak sengaja dia menunjukan restoran itu sambil melihatku dan tiba-tiba dia ingat, “Are you Indonesian, right?” Sambil menggunakan ekspresi yang excited.

“Yes, I am”, ujarku dengan penuh semangat. Begitu bangga nya makanan indonesia di puji-puji oleh bule disana. Memang makanan indonesia tak ada tandingannya, sih!

“You must go there someday”, ucapnya dengan penuh rasa bangga sambil menjelaskan betapa nikmatnya makanan-makanan yang ada disana. Setelah 3 halte kami turun untuk melanjutkan jalan kaki ke Apartemen.
Melihat barang bawaanku yang banyak, sang panitia itu(kita belum sempat berkenalan atau bertukar nama atau bertukar nomor handphone) akhirnya membawakan satu tasku. Dia pengertian banget, karena harus upstairs dan downstairs berkali-kali. Di jalan menuju apartemen kita semua bercanda-canda. Mereka sangat ramah dan welcome. (((Sangat ramah)))

“Which one my apartment?”, tanyaku. Karena ada sekitar belasan gedung disini.

“That building. If you need something fresh or something necessary to eat you can go there”, sambil menjelaskan fungsi bangunan di sekitar. Ada sport centrum, ada mini market, ada café, ada lapangan, dan ada semuanya. Lengkap!

Akhirnya diantar oleh Madeline yaitu panitia cantik yang sangat ramah yang mau mengantarkanku sampai di depan kamar. Finally, thanks madeline!

Berikut foto-foto kamarku. Aku berada di lantai 10 paling ujung, kalau kata madeline mah.

View dari kamar

Meja belajar dan perlengkapannya

Barang bawaan

View di gedung sebelah bertuliskan Uilenstede

Kamar mandi

View dari balcony

View cafe yang ada dibawah apartemen

Fasilitas:
a. Kamar berukuran 3x4 meter
b. Kamar mandi dalam(semua air panas & air dingin)
c. Balcony
d. Kulkas
e. Meja belajar
f. Sharing kitchen

“You are the lucky bastard, you got the heaven spot!”, ujar Madeline.


Amsterdam, 20 July 2015
06:47

Munchen is Calling [Part 2]



Sepulangnya dari Olympiapark, perjalanan kembali menuju apartemen untuk beristirahat sejenak. Konon nanti malam sekitar pukul 19.00 berencana untuk pergi ke sebuah Opera House, kami bertiga yang hanya memiliki dua tiket pun harus mengatur strategi, akhirnya kami berdua yang masuk ke Opera House itu. Tiket Opera House yang hanya dapat dibeli jauh hari sebelum pentas pun merupakan kendala.
Opera House

Bagiku, pergi menonton sebuah Opera yang biasa ditonton oleh orang-orang dewasa dan berkelas pun merupakan sebuah event yang sangat membutuhkan perhatian khusus bagiku. Manusia super simple yang tidak pernah memperhatikan penampilannya, dipaksa secara halus untuk dressed up. Hampir semua penonton disana mengenakan Formal Attire,daripada mengenakan Jas dengan berbagai cara diplomasi akhirnya pilihan paling tepat tanpa ribet adalah mengenakan Batik. Meskipun begitu, perjanjian untuk lebih behave di Opera House aku pegang erat-erat. 


Kemegahan ala Eropa ini menjelaskan betapa tinggi kasta mereka, saat itu. 

“Taufik, I just want you to know that this isn’t biggest Opera House in this city, we have bought two more Opera performances this week, you are lucky!”

Ternyata Opera House sebesar, semegah bahkan se high-class itu bukan yang terbesar. Cukup menyedihkan, selama ini tidak mengasah kemampuan Bahasa Jerman dengan tekun, yang berakhir pada tidak pahamnya apa yang mereka ceritakan. But the gestures picturize it well. Selain itu larangan untuk membawa kamera cukup membuat sulit dalam mengabadikan momen.
Bavarian State Opera

Ada sebuah pelajaran yang bisa dipetik dari menonton sebuah Opera. Selesai pertunjukan, semua penonton berdiri sambil tepuk tangan paling meriah, dan itu dilakukan selama kurang lebih 10 hingga 15 menit. Jujur, itu melelahkan, silahkan dicoba.

Apresiasi yang luar biasa, membuat merinding dan terharu, sungguh. Sungguh rasanya indahnya sebuah apresiasi. Keikhlasan tepuk tangan serta senyum yang terpancar benar-benar membuatku jatuh hati, jatuh hati kepada sebuah kekuatan apresiasi. 

Setelah selesainya pertunjukan, ada sebuah tradisi yaitu minum di Bar yang ada di setiap Opera House. 

“Which one, Cola or Juice?”
Fine dining at Opera

Itulah yang selalu Opa tanyakan, statusku sebagai seorang Muslim, serta pengertian beliau mengenai kepercayaanku, dia tidak pernah menawarkanku Pork atau Wine. Dan hanya dua minuman itu yang selalu aku pesan, kemanapun aku pergi.

Kebiasaan bangun pagi pada pukul 5 merupakan sebuah kebingungan pada hari ketiga. Itu adalah waktu dimana semua orang belum beraktifitas, namun matahari sudah seperempat hari berada di tengah bumi. Berteman dengan buku adalah aktifitas paling tepat pada pagi hari, hampir setiap hari. 

Berencana ke Museum Munich Residence, yang merupakan sebuah tempat dulunya tempat tinggal bagi petinggi Bavaria’s Dynasty. Lokasi ini berada tepat di sebelah Bavarian State Opera House, residence ini memiliki arsitektur dengan detail yang penuh dengan komposisi warna emas, di beberapa sisi memiliki kombinasi red-gold dan blue-gold. Arsitektur di dinding hingga langit-langit, apakah terbayangkan pada ratusan tahun yang lalu, negeri Bavaria sudah memiliki istana semegah itu?
Rezidenz Museum

Ditemani dengan sebuah translator device yang bentuknya seperti sebuah telepon genggam dengan versi yang sangat besar, akhirnya dapat mengetahui sejarah tiap-tiap arsitektur yang ada. Penjelasan pun sangat baik tersampaikan, bahkan device tersebut memiliki belasan bahasa, sehingga memudahkan bagi pelancong yang berasal dari berbagai negara. 


Hari keempat berada di Museum BMW, salah satu mobil mewah yang digunakan oleh ribuan konglomerat karena kekuatan dari mobilnya. Keberadaan Museum BMW adalah sebuah status yang kuat bagi posisi Munchen akan maju serta berkelasnya kota ini. Cuaca yang tidak mendukung akhirnya membatalkan rencana untuk menaiki sebuah tower untuk melihat kota ini dari atas. Pertunjukan didalam Museum berisi tentang mobil-mobil yang di produksi BMW dari dulu serta mobil terbaru. Dan ternyata BMW memiliki produk berupa sepeda motor, dengan klasifikasi Motor Gede.
BMW Museum

Seperti biasa, cuaca yang kurang baik itu kami manfaatkan meminum kopi di BMW Café, berlokasi di lantai dua gedung ini.
BMW Museum Cafe

Berlanjut menuju sebuah festival bernama Artgeteches Munchen atau di Indonesia biasa disebut pasar malam, yang di Munchen hanya ada pada saat Summer. Dikarenakan banyak yang belum buka, akhirnya kami pulang. Lokasi Artgeteches Munchen berada di balik bukit, cukup tertutup namun sangat seru untuk cycling. 
Summer Festival

Hari kelima cukup melelahkan karena pergi ke suatu tempat berlibur para Raja Munchen, sebuah tempat asri serta banyak turis. 

Munchen Castle

Hari ke enam dan ke tujuh. Akhirnya setelah berhari-hari melakukan diplomasi, berakhir pada bolehnya pergi sendiri. 

“I don’t give you any permission to go somewhere by yourself!”, ucapnya hari pertama. Mematahkan semangat untuk explore Munchen sendiri, sehingga Itinerary yang telah tersusun rapi harus di replace dengan Itinerary yang telah beliau tetapkan. Akhirnya tiket yang diberikan pun tidak diperguanakan sepenuhnya, jalan kaki jauh lebih seru. Dengan alasan ingin pergi melihat kembali Universiteit akhirnya diizinkan, dengan batasan waktu tertentu. Akhirnya menemukan beberapa tempat yang belum terjamah sebelumnya, cukup banyak malah. Dibekali dengan sebuah Handphone akhirnya melanglang buana sendirian, hanya berbekal sebuah peta. 

Hari terakhir adalah bersamaan dengan Idul Fitri. Dengan berbagai macam cara, aku yang hanya muslim seorang meminta beliau mencarikan tempat untuk sholat Ied. Setelah googling, terdapat beberapa masjid yang ada di Munchen, karena hasrat yang sangat tinggi untuk pergi ke Allianz Arena, kandang Bayern Munchen. Lalu ada sebuah Islamic Centrum yang lokasinya bersebrangan dengan Allianz Arena, akhirnya berbagai macam diplomasi telah dilakukan hingga dibuatkan sebuah petunjuk yang sangat detail, pastinya agar tidak tersesat. Di salah satu kota terbesar di Germany, adalah hal sulit bagi pendatang baru sepertiku memahami jalan. Pernah membaca bahwa Pak B.J. Habibie mewakafkan tanahnya untuk dijadikan Islamic Centrum di Munchen, dan kemungkinan besar itu adalah lokasi dimana aku sholat Ied.

“How can I become an independent person in the country I haven’t lived in if I am restricted to go somewhere by myself? How can I learn something new next week, and go Amsterdam by myself”, itulah powerful argument yang akhirnya memberikan tiket untuk explore sendiri di kota ini.
Beberapa konsiderasi mengapa aku tidak diperbolehkan pergi sendiri adalah pertama komunikasi. Telepon genggamku tidak memiliki kartu disana, sehingga tidak dapat dipergunakan, meskipun untuk Telkomsel mencakup area Munchen bahkan Amsterdam. Kedua adalah keterbatasan warga Jerman yang mampu berbicara bahasa inggris dengan baik, itu adalah kendala terbesar bagiku, kebiasaan untuk bertanya orang pun menjadi sebuah masalah. 

Pengalaman yang membuat merinding adalah ketika berada didalam sebuah bus menuju Islamic Centrum yang banyak berisi dengan 20an orang Arab yang juga memiliki tujuan yang sama. 

“Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar, Lailaahailallahuallahuakbar. Allahuakbar walilahilham.”, seruan kami didalam bus.

Sungguh tak pernah kulakukan hal ini di negaraku sendiri, ternyata di negeri yang mayoritas tidak menganut agama Islam pun mereka sangat menghargai sebuah Idul Fitri. Tidak hanya itu, sepulangnya aku bertanya kepada seorang supir “Why the machine doesn’t work well?”, kebingungan terjadi karena tidak berjalan. Ternyata sang sopir tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa inggris, akhirnya aku meminta kepada seorang wanita Arab untuk menanyakan kenapa mesin tidak berjalan. Ternyata, khusus hari Idul Fitri maka bus menuju Islamic Centrum digratiskan oleh pemerintah. Kaum minoritaspun sangat dihargai di Jerman, bahkan sebuah agama yang terkenal dengan melahirkan kaum teroris itu tidak pernah mendapatkan diskriminasi. Indonesia harus belajar menghargai kaum minoritas dari negara ini, harus!

Berjarak sekitar 500 meter, terdapat sebuah stadion megah yang menjadi salah satu icon di Munchen. Bahkan, ini adalah satu dari dream list yang harus aku kunjungi yaitu "Allianz Arena". Allianz Arena adalah kandang Bayern Munchen yang iconic dengan LED lamp yang bisa berubah warna ketika datang gelap.

See my outfits during Idul Fitri

Must-visit place

Selama tepat tujuh hari di Munchen, merasakan tiga buah Opera House megah dan berkelas. Sedikit kekecewaan karena ada sebuah tempat impian yaitu Neuschwanstein. Kastil ini berada diluar kota Munchen, dengan Arsitektur yang sangat mirip dengan negeri dongeng, konon Arsiteknya adalah salah satu Raja Ludwig. Beliau mewujudkan kastil yang ada di dongeng menjadi sebuah kastil megah dengan lokasi di atas pegunungan, persis seperti di dongeng-dongeng.
Neuschwanstein

Selain itu, belum kesampaian untuk berkunjung ke Technische Universitat Munchen yang tersohor di benua Eropa itu.
Technische Universitat Munchen

Pada hari terakhir, disaat semua sudah terasa nyaman dan menyenangkan, harus pergi ke sebuah kota sendiri. Keberadaan Munchen menjadi sebuah awal petualangan yang benar-benar penuh kejutan.

Terima kasih, Tuhan. Atas semua kejutan yang telah Engkau persiapkan. Aku siap menerima kejutan-kejutan selanjutnya, untuk mengunjungi berbagai negara yang ada di berbagai belahan dunia. Aku siap, Tuhan.

Munchen is calling.

Pagi itu kamar berantakan. Kertas hasil dokumen-dokumen penting pun berserakan. Sambil membuka semua file di Folder untuk ditandai –finished.doc setelah selesai dicetak. Di sebelahnya terdapat sebuah koper yang sudah diisi beberapa potong baju dengan menggunakan teknik melipat ala backpacker, tidak lain tidak bukan memang untuk menghemat ruang. Lima bungkus Indomie, 2 Popmie serta BonCabe tak luput dari cengkraman sang koper. Demi survive di negeri orang, tak apa toh? Menyedihkan memang menjadi seorang yang konservatif sama makanan. Yang sangat tidak mau untuk mencoba makanan yang baru. Bagaimana tidak, untuk tinggal di negeri orang, mana mungkin ada warteg tersedia di pengkolan depan kampus?

“Worst case itu harus ditanggulangi”. Tiba-tiba terlintas di pikiran tentang salah satu prinsip itu. Sebagai Solo Traveller yang akan menjejakan kaki pertama kalinya di benua yang berisi dengan negara-negara maju, menuntut persiapan ekstra. Beberapa dokumen maupun tiket langsung segera di cetak double. Ya biar semua lebih well-planned dan well-managed apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Satu-satunya the most affordable transportation ke airport dari Depok adalah Bus Hiba Utama. Cukup mengeluarkan 1 lembar uang rupiah berwarna biru(dan wangi yang menggoda) sudah bisa menikmati dinginnya AC dengan kursi empuk sambil mengantarkan kita ke Airport.

Sesampainya di Terminal 2D, baru masuk pintu pertama seperti melihat seseorang yang tidak asing yang tadi pagi-pagi telepon cuma buat nanya “Mau dianterin ga?”, dan seperti biasa, tolakan berpihak kepadanya. Ternyata, nekat juga ini anak. Dengan muka kucel yang entah kenapa, dia sambil menyodorkan beberapa makanan untuk dibawa. Pasti dibawa. Setelah itu, perpisahan.

================================Loading================èAmsterdam======èMunchen.

“Muncheeeeeenn!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriakan dalam hati. Setelah penjemputan akhirnya pergi ke sebuah café di daerah Technische Universität München, sebuah Universitas Teknik nomor wahid di Germany. Tenang, damai dan sejahtera, pikirku kembali. Summer adalah waktu yang tepat untuk mencicipi hangatnya matahari menyentuh kulit secara langsung. Terlebih saat itu pukul 02 PM yang matahari sedang berada tepat di kepala kita. Di terik panas, meja bundar kecil dengan dua kursi pun menjadi pilihan yang tepat, untuk tiga orang. Sambil menikmati cappuchino serta sepotong roti berisi strawberry jam, lalu lalang mahasiswa bersepeda terlihat seperti tidak memiliki beban. Sepeda yang merupakan moda transportasi utama di kota ini memang sangatlah dekat dengan kehidupan penduduknya. Kampus ternama tersebut memberikan aura teknik yang sangat kental akan kekakuan, disiplin dan tepat. “You need to study here, you will get the ambiance.”, ucapnya. Bersekolah di jurusan Computer Science memanglah dekat dengan teknik, atau bahkan untuk di negara-negara eropa Computer Science biasa disebut Informatics Engineering. Ya bagian dari teknik, bagian dari kampus ini juga. Ia berkata bahwa saya cocok untuk melanjutkan study disini, sambil menyeruput cappuchino hangat itu. "Sorry for my idealism, i will get out from my way anyway", gerutuku dalam hati.
Dari dalam Schiphol Airport saat menunggu pesawat ke Munchen, 

Bus menuju ke pesawat Lufthansa

Pemandangan dari luar Airport Munich

Allianz Arena terlihat di jalan tol


Di perjalanan, melewati sebuah tol yang tidak crowded, tidak seperti di Jakarta. Pemandangan dari dalam mobil pun disuguhkan berbagai macam pemandangan, “Kota ini memang hijau”, gumamku dalam hati. Terlintas ada Allianz Arena yang namanya cukup harum di berbagai belahan dunia itu, terpotret dengan tidak baik dalam ponselku. “Harus kesana!”, ucapku lirih supaya tak terdengar oleh mereka. Obrolan bahasa Deutschland yang memang tak pernah bisa dimengerti, memberikan kesempatan untuk mencari aktifitas lain. Tak terasa mobil sudah berada di depan sebuah apartemen di sebuah persimpangan yang dekat dengan jalur tram itu, Franz Jozeph Strasse. Hanya kurang lebih 500 meter dari sini, terdapat sebuah alun-alun kota dan pusat kota yang berisi Shopping Centrum yang konon baju-baju disana seharga mobil di Indonesia. Selain itu, Ludwig Maximilian University Munich yang ternyata adalah juga kampus nomor wahid di Germany berada di sebelah persimpangan dekat dengan GisellaStrasse, ujung depan dari koridor apartemen ini.
Hari pertama, langsung menuju EnglischeGarten yang berada di belakang Universiteit(kata orang Munich). Mungkin taman ini berukuran sama dengan Hutan kampus Universitas Indonesia di depok, lengkap dengan danau nya yang cukup luas. Sambil menikmati buah cherry yang dibeli di jalan menuju ke pusat taman, terlihat ramai sekali mahasiswa yang sedang berjemur. “Pantaslah mereka kalau di pantai berpakaian seperti itu”, ucapku. Di Indonesia tidaklah lazim seseorang berjemur di bawah terik panasnya matahari hanya menggunakan bikini atau celana renang saja, sekalipun di pantai.

“It was a reversed moment, I think”. Bahkan mereka yang hanya berjemur di danau saja sudah berpakaian seperti ini.

Banyak restoran yang buka yang menyediakan banyak makanan dan minuman. Restorannya pun sangat beragam pastinya. Ada yang di tengah taman, ada yang di pinggir danau, bahkan ada di pinggir sungai yang konon airnya langsung dari gunung Alpen. “You don’t need to know how cold this water is”, ucapnya sambil menunjuk sungai kecil yang hanya beberapa gelintir orang saja yang berani berendam ditempat itu. Berbagai macam atraksi yang di pertontonkan pun sangat menarik, mulai dari musik yang menggema di belantara hutan mungil itu serta Surfing.

“Are you crazy to do surfing in a river?”, tanyaku.

“Just let see it!”, ucapnya sambil berjalan mengarah sebuah sungai yang memiliki arus yang deras.

“Dammit!” sambil lari kecil ke pinggiran sungai ini.

“How come?” kataku sambil menunjuk. Takjub memang, tapi sungai dengan arus yang besar ini memang biasa digunakan untuk surfing atau hanya latihan saja. Tetapi memang digunakan untuk Surfing activities. Lengkap kostum mereka yang beberapa kali terlihat sangat familiar ketika berjalan-jalan di pantai Kuta, Bali. Dan akhirnya tenggelam dalam riuhnya summer di negara sub tropis ini.

Sepulangnya jalan-jalan, “I want to go there”, sambil menunjuk sebuah gerbang raksasa khas eropa yang megah dengan ornamen khas negara ini. Yang ternyata adalah sebuah Gate untuk masuk Universiteit. Dan letaknya tepat di dekat pintu gerbang Englischegarten ini.

Hari kedua. Matahari bersinar terik, hari itu berencana untuk menepati janji dengan seorang dari Amerika di sebuah tempat yang sangat unik, Olympiapark. Setelah raket serta bola lengkap dengan topi serta kacamata hitam, ayuhan sepeda beranjak menuju tempat yang telah dijanjikan sebelumnya. Sebuah lapangan tenis yang terdiri sekitar belasan lapangan tersebut ternyata sudah penuh terpesan, untuk lapangan yang terbaik. Dengan terpaksa maka harus memesan lapangan yang kualitasnya katanya biasa saja, namun mungkin lapangan yang mereka bilang biasa saja tersebut sangatlah berkualitas baik yang pernah saya temui di Boyolali, tempat kelahiran dan tempat bertumbuh.

Sport is a cable for connecting people itu memang benar. Kawan yang dulunya bersama bisa kembali akrab setelah melakukan sport, tenis adalah salah satunya.


“Two cola please”, ucapnya diiringi dengan pelayan wanita yang berada di depannya itu. Di belakang stadion Olympia, serta tepat di sebelah Lapangan tenis yang kami pesan, untuk kedua kalinya hari ini.


Munchen, 18 Juli 2015
11:27

Meet & Seat, ketemu lalu duduk bareng di udara?

Pada penerbangan panjang pastinya kita ingin duduk di samping seseorang yang akan membuat perjalanan kita nyaman, kan? Jadi bagaimana jika kita bisa menggunakan media sosial yang kita miliki untuk memilih teman duduk, berdasarkan pada friend yang ada di media sosial kita atau kepentingan lainnya. Pastinya itu akan membuat pengalaman terbang menjadi lebih nyaman, setuju?

Jangan khawatir, airline dari Belanda sudah menemukan dan mengimplementasikannya! Apa itu? Simak inovasinya dibawah ini.

Program seat selection disebut "Meet & Seat", sebuah layanan telah diluncurkan pertama kali di dunia pada tahun 2012 oleh KLM Royal Dutch Airlines. KLM Royal Dutch Airline merupakan salah satu Airline yang berasal dari Belanda yang memberikan inovasi-inovasi baru dalam dunia penerbangan, tak heran apabila banyak penumpang yang membelalakan mata karena keheranan atas inovasi-inovasi yang dilakukan oleh KLM. Dengan dilakukannya integrasi dengan Facebook dan Linkedin, tapi tidak Twitter. Alasannya karena memang hal itu dikhususkan untuk sistem yang “acceptance” dari dua arah yang artinya harus menjadi friend dalam kedua media sosial tersebut, berbeda dengan twitter yang “acceptance”nya bisa hanya dengan satu arah yaitu follow.


Gambar 1 Facebook atau LinkedIn profil dapat digunakan untuk memilih seatmates.

 “Meet & Seat” tersedia hanya untuk penumpang yang bersedia untuk menghubungkan profil media sosial mereka dalam pemesanan. Setelah memilih beberapa informasi pribadi yang mereka ingin bagikan, penumpang disajikan dengan peta kursi yang menunjukkan dimana orang lain yang juga telah berbagi profil mereka untuk memilih tempat duduk. Alasan penumpang mungkin memilih pasangan duduk hanya karena suatu kepentingan, tapi jabatan yang sama bisa menempatkan penumpang untuk mendapatkan kursi di dekat pebisnis yang potensial(dalam hal ini sama potensialnya). Penumpang kemudian dapat memesan kursi di sebelah orang yang tampaknya menarik(asalkan masih tersedia) dan orang itu akan menerima pesan dengan rincian profil kita.


Gambar 2 Pemilihan seat.

Dalam penerbangan dari Amsterdam ke Sao Paulo, misalnya, penumpang bisa memilih Juru Bicara Direktur Inggris, yang sangat menyukai aliran musik reggae dan jazz, atau seorang ahli kimia dari Italia yang fasih berbahasa Belanda, Inggris, Spanyol dan Portugis, maupun penggemar aliran musik rock dari Norwegia yang sedang dalam perjalanan untuk mengunjungi keluarganya di Argentina.
Meskipun tidak mungkin untuk "menolak", orang telah memilih untuk duduk dengan kita, kita masih dapat memilih tempat duduk lain selama dua hari sebelum penerbangan. Atau alternatif lain apabila merasa canggung maka kita dapat menghapus data mereka dan memilih kursi baru menggunakan standar “anonim”.

Sangat menarik bukan?

Adapun proses untuk kita dapat memilih tempat duduk maskapai berdasarkan pada media sosial kita yang  diperkenalkan oleh KLM Royal Dutch Airline. Tapi jika kita sedang terbang sendiri, dan apabila kita ingin bertemu dan berbicara dengan orang asing pada penerbangan berikutnya apakah bisa? Jawabannya adalah bisa. Seperti tertera diatas yaitu menggunakan standar “anonim”.
Dalam pelaksanaannya ada beberapa prosedur yang harus dilalui penumpang untuk menggunakan program “Meet & Seat”. Dilansir dari website resmi KLM Dutch Royal Airline, berikut adalah prosedur dalam memilih kursi pesawat dalam program “Meet & Seat”.

Gambar 3 Penumpang untuk memilih seatmates berdasarkan informasi dari profil Facebook atau LinkedIn mereka.


Sebegitu mudahnya kan untuk duduk dengan rekan yang kita kenal dalam satu pesawat dan penerbangan panjang?

"Meet & Seat saat ini telah disambut sebagai program fantastis, layanan baru yang inovatif," ucap Martijn van der Zee, Senior Vice President E-commerce dari KLM Royal Dutch Airline.  "Orang-orang menanggapi dengan rasa ingin tahu dan antusiasme dan positif oleh seluruh Direktur", ucapnya kembali.

Menurut juru bicara KLM Royal Dutch, lebih dari 50.000 penumpang telah memilih untuk menggunakan “Meet & Seat” sejak layanan ini diperkenalkan. Hal ini tidak terlalu besar dalam persentasenya, namun, karena lebih dari 52 juta penumpang terbang dengan maskapai penerbangan dalam dua tahun terakhir. “Meet & Seat” yang paling populer pada rute ke dan dari Brasil, mungkin dikaitkan dengan fakta bahwa sekitar 5 juta pengguna Facebook KLM Royal Dutch Airline, sekitar 1 juta dari mereka adalah dari Brasil dan 62% dari pengguna layanan ini terhubung dengan Facebook.


Ketika layanan pertama kali diluncurkan pada bulan Februari 2012, “Meet & Seat” hanya tersedia pada penerbangan dari Amsterdam ke San Francisco, New York dan Sao Paulo. Sebulan kemudian baru ditawarkan ke lebih 10 tujuan penerbangan, berdasarkan fakta bahwa mayoritas menggunakannya untuk networking. Sejak itu telah diluncurkan pada semua penerbangan maskapai akan dan datang dari Amsterdam Airport ke  Schiphol.

“Meet & Seat” diharapkan mampu mengubah industri penerbangan untuk menjadi lebih baik dengan menghubungkan penumpang dengan sumber daya besar yang belum dimanfaatkan dari pengetahuan dan hiburan di perjalanan untuk penumpang. Sebagai pilot project, KLM Dutch Royal Airline diharapkan menjadi inspirasi berbagai airline yang ada diseluruh belahan dunia untuk mengikuti jejaknya, agar banyak penumpang pesawat yang dapat bertemu dengan orang yang kita kenal. Sehingga banyak orang yang bersuka cita saat melakukan penerbangan, meskipun jarak jauh karena dapat bertemu serta ngobrol bareng dengan rekan. Penerbangan jauh tidak akan terasa jauh apabila kita dalam keadaan suka cita, kan?
Meskipun banyak proyek Belanda yang dahsyat seperti Delta Works Project, Agriculture Farming Technology serta berbagai macam inovasi lainnya, maka “Meet & Seat” adalah inovasi pelengkap dari elemen udara. Tidak kalah bergunanya kan “Meet & Seat” untuk seluruh warga Belanda maupun warga dunia? Inilah salah satu inovasi yang memanfaatkan elemen udara yang menyatukan manusia dalam sebuah tempat yang berukuran hanya kurang lebih 2x2 meter, yaitu kursi pesawat.

“Whenever I was at a meeting, someone would ask me to get coffee.”
Bella Abzug.

Ingin melihat simulasinya secara langsung?



Referensi Gambar:
Gambar 1: http://static01.nyt.com/images/2012/02/24/business/global/24seats-span/24seats-span-articleLarge.jpg
Gambar 2: http://static01.nyt.com/images/2012/02/24/business/SEATS2/SEATS2-popup.jpg
Gambar 3: http://static01.nyt.com/images/2012/02/24/business/SEATS1/SEATS1-popup.jpg

Referensi:
http://travelonthedollar.com/2011/12/16/socialize-with-complete-strangers-at-airports-or-planes/
http://travelonthedollar.com/2011/12/15/choose-your-airline-seat-based-on-your-social-network/
http://www.webinknow.com/2012/02/klm-social-media-meet-and-seat.html
http://www.klm.com/travel/gb_en/prepare_for_travel/on_board/your_seat_on_board/select_your_seat.htm
http://news.klm.com/klm-lanceert-applicatie-meet-e-seat-en